Senin, 06 September 2010

Laut

"Nenek moyangku orang pelaut Gemar mengarung luas samudera Menerjang ombak tiada takut Menempuh badai sudah biasa"

Siapa tak kenal lagu di atas? Bait pertama lagu Nenek-moyangku Orang Pelaut secara eksplisit menggambarkan keperkasaan nenek-moyang dalam mengarungi samudera luas. Namun, hanya sebatas itukah hubungan bangsa ini dengan laut, hanya dianggap sebagai pemisah, yang oleh karenanya pantas ditaklukkan ombak-gelombangnya agar orang bisa ngelencer antarpulau atau antarnegara?

Saya menduga, narrowing atau penyempitan makna itu terjadi salah satunya gara-gara kita tidak tahu bahwa lagu Nenek-moyangku sejatinya terdiri dari dua bait. Bait pertama bunyinya memang seperti yang tertulis di atas dan dihafal murid-murid TK dan SD di mana-mana. Sedangkan bait kedua yang syairnya tak banyak diketahui orang selengkapnya bunyinya begini:

"Angin bertiup layar terkembang Ombak berdebur di tepi pantai Pemuda berani bangkit sekarang Ke laut kita beramai-ramai."

Nah, dari bait kedua jelas tersurat ada ajakan untuk "bangkit dan pergi ke laut beramai-ramai". Ini adalah ajakan untuk memandang laut lebih dalam dan substantif. Laut dilihat bukan sekadar sebagai entitas air yang bergolak dan menghalangi gerak manusia, melainkan juga entitas yang menjadi bagian dari kehidupan manusia Indonesia secara keseluruhan. Pertanyaannya, berapa banyak orang yang paham ajakan ini? Saya rasa, sangat sedikit.

Jujur saja, hingga detik ini ingatan kolektif bawah sadar sebagian besar warga Indonesia tentang laut masih berkonotasi 'negatif. Jika kita bicara laut, maka yang terbayang adalah ombak, angin, badai, tsunami. Kalaupun ada bayangan lain, paling-paling interpretasi bahwa laut adalah sumber daya hayati tak terbatas yang perlu dieksploitasi secara besar-besaran. Sebuah terminologi yang sejatinya tidak terlalu tepat.

Memang tak salah jika kita berniat mengeksploitasi laut, karena selama ini laut di seluruh wilayah Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Tak bisa dimungkiri, kita memerlukan grand design untuk memanfaatkan laut sebagai basis kekuatan negara di berbagai bidang. Akan tetapi mengeksploitasi saja tanpa memikirkan upaya pemanfaatan secara berkelanjutan justru akan menghancurkan laut secara fatal.

Jika kita merujuk pada pendapat Alfred Thayer Mahan (1840-1914) dalam The Influence of Sea Power Upon History 1660-1783, seharusnya kita bisa belajar bagaimana sebuah bangsa dapat maju dengan landasan pijak (foot hold) di bidang kelautan. Dan itu bukan berarti menguras habis isi laut untuk memenuhi hasrat kebutuhan manusia yang tak terbatas.

Maka, seperti yang dilakukan nenek-moyang, marilah kita beramai-ramai pergi ke laut. Pandangi birunya dengan penuh harapan, bahwa di sana ada masa depan. Nikmati debur ombaknya sebagai pemicu dinamika, bahwa di dalamnya penuh dengan potensi yang luar biasa besar untuk mensejahterakan kehidupan anak bangsa. Namun jangan lupa, renungi juga beningnya sembari menghitung secara cermat apa saja yang dapat kita ambil dari dalamnya, agar laut bisa menjadi katup pengaman sepanjang masa bagi kehidupan manusia, saat daratan tak mampu lagi mendukung jumlah manusia yang kian berpinak.

Laut bukanlah kulkas yang dapat dikuras isinya, lalu seketika dapat diisi lagi dengan yang baru. Butuh waktu panjang bagi laut untuk memulihkan ekosistemnya setelah dijarah peradaban manusia. Maka pada titik ini, kesadaran manusia untuk menggauli laut secara arif sangat penting!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar