Rabu, 25 Agustus 2010

Perbedaan Antara Benih Dan Bibit

MESKIPUN dalam praktek sehari-hari kita sudah teramat biasa menyebut benih tanaman sebagai bibit atau sebaliknya, tapi sebenarnya dua istilah itu berbeda. Para petani kita memang lazim mengatakan ingin membeli bibit cabe atau tomat. Biji itu sebenarnya tidak bisa kita sebut bibit, melainkan benih tanaman. Semua biji-bijian untuk ditanam kembali, sebaiknya kita sebut benih, seperti benih padi yang berupa butiran gabah pilihan, benih kelapa berupa butiran buah kelapa, yang sengaja kita biarkan sampai tua sekali, untuk ditanam kembali.

Sebaliknya, bibit (tanaman) ialah tanaman muda yang sudah tumbuh di pesemaian, dan siap dipindah ke lokasi penanaman. Demikian pula umbi-umbian, seperti kentang, bawang dan anakan tanaman seperti anakan pisang. Jadi, kalau gabah pilihan yang kita semai itu masih disebut benih, maka sesudah disemaikan dan tumbuh, lalu siap dicabut untuk ditanam di sawah, ia "balik-nama" menjadi bibit padi. Demikian pula cabe, kopi, cengkeh dan lain-lain. Kalau bijinya yang akan kita semai atau tanam langsung, itu namanya benih, maka kalau sudah tumbuh menjadi tanaman muda, tidak boleh disebut benih lagi, tapi bibit.

Tapi itu tidak berarti bahwa semua biji-bijian bisa begitu saja kita sebut benih tanaman. Kedelai atau kacang tanah yang dijual di pasar untuk dijadikan tempe atau kacang goreng jelas tidak bisa kita sebut benih. Demikian pula jagung manis, gabah makanan burung, kacang ijo, bubur ketan item. Kadang-ka-dang, cabe atau tomat yang kita beli di pasar memang bisa tumbuh juga manakala kita buang di tempat sampah. Tapi daya tumbuhnya relatif kecil. Juga setelah tumbuh, tanaman tidak akan berkembang menjadi seperti yang kita harapkan. Benih tanaman memang lain sekali dengan biji-bijian yang biasa kita makan.

3 komentar: