Sabtu, 28 Agustus 2010

Menyimpan Benih

SECARA tradisional masyarakat petani kita menyimpan benih secara utuh berikut kulit buahnya, di para-para dapur yang setiap hari kena asap. Secara alamiah asap ini akan membuat benih menjadi kering. Asap ini juga mencegah serangan serangga perusak, seperti hama bubuk dan kutu. Benih yang disimpan secara ini bisa tahan satu tahun lebih. Jagung, padi, kacang-kacangan yang dipanen pada bulan Februari misalnya, masih cukup baik untuk ditanam di bulan Februari tahun berikutnya. Meskipun kena asap terus menerus sepanjang hari selama 1 tahun, benih itu tidak rusak atau kering, sebab masih tersimpan dalam kulit buahnya. Jagung tetap dibiarkan tersimpan dalam kulit luarnya, demikian pula kacang-kacangan yang masih tersimpan dalam polongnya. Bahkan benih semacam labu (waluh) juga tetap dibiarkan utuh dalam buahnya, dan langsung disimpan di para-para. Akibatnya, labu ini kering daging buahnya, dan bersama kulit yang keras melindungi biji, agar tetap baik. Sampai sekarang, cara penyimpanan benih demikian masih dilakukan oleh masyarakat tadi di pedesaan.

Tapi menyimpan benih secara demikian jelas kurang praktis, kalau kita tinggal di kota dan memasak sudah tidak memakai kayu lagi, sedang para-para di dapur juga sudah tidak ada lagi. Cara penyimpanan seperti ini juga sulit dilakukan, kalau benih yang akan disimpan itu cukup banyak jumlahnya, sehingga terpaksa butuh tempat banyak sekali. Selain cara penyimpanan, sifat benih itu sendiri tentu ikut menentukan pula, sampai berapa lama benih tahan disimpan. Benih cabe, terung, tomat, dan kacang tanah misalnya, lebih mudah rusak dibanding dengan benih lamtoro, dan kecipir yang kulit bijinya sangat keras dan tebal. Penyimpanan akan baik, kalau kelembapan udara dan suhu udara cukup rendah. Makin tinggi suhu dan kelembapan udara, makin besar kemungkinan benih menjadi rusak atau keburu tumbuh. Penyimpanan secara tradisional di dapur berasap itu sebenarnya sudah tepat karena kelembapan tempat itu relatif rendah, sementara suhu yang panas dari asap tungku tidak sampai ke benih, karena biji masih tersimpan dan terlindung oleh kulit buah yang bertugas sebagai penyekat.
Free Image Hosting by FreeImageHosting.net
Keadaan seperti inilah yang harus kita tiru dalam penyimpanan cara modern. Sesudah ditangani dengan baik, dan disortir, benih disimpan dalam botol yang bersih. Bagian atas kumpulan benih dalam botol itu diberi abu dapur sampai penuh, baru kemudian ditutup rapat. Benih yang disimpan seperti ini masih bisa tahan sampai musim tanam berikutnya. Kalau benih yang akan kita simpan itu banyak sekali sampai repot kalau ditaruh dalam botol, kita bisa menggantinya dengan kantong plastik, yang diikat erat-erat. Supaya lebih aman, benih yang sudah masuk ke dalam kantung plastik ditaruh dalam ember plastik atau tempat lain, dan sekali lagi ditutup rapat-rapat. Ember plastik ini harus disimpan dalam ruangan kering yang tidak terlalu lembap. Perlu diusahakan jangan sampai ditaruh di lantai begitu saja, karena lantai akan mempengaruhi kelembapan dalam ember. Kalau terpaksa ditaruh di lantai, ember plastik harus diganjal dengan balok-balok kayu atau bahan lain yang kering.

Selain itu, kadang-kadang benih yang akan disimpan lama juga perlu diberi pestisida, agar terhindar dari serangan jamur dan hama serangga. Antara lain Dithane M-45, Agrosan, Ceresan, Gar-dons, Sevin. Bahan ini cukup ditabur begitu saja, kalau berupa tepung, dan kemudian diaduk bersama benih. Kalau pestisidanya berupa cairan, lebih dulu harus diencerkan dengan air, baru kemudian dibasahkan ke benih. Sesudah merata, benih harus dikeringkan cepat-cepat, sebelum dimasukkan ke tempat penyimpanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar