Sabtu, 28 Agustus 2010

Menguji Benih Secara Sederhana

Misalnya kita merencanakan menanam kedelai seluas 10 hektar. Sebaiknya membeli dulu (atau kalau boleh meminta) contoh kepada beberapa penjual atau penangkar benih yang kita ketahui. Berbagai contoh benih itu kita tanam di lahan yang memang akan kita tanami kedelai. Contoh-contoh itu harus kita hitung. Misalnya ada 100 biji benih yang kita tanam dalam 25 lubang penanaman, yang masing-masing berisi 4 benih. Begitu mereka tumbuh, segera saja kita hitung berapa jumlahnya. Misalnya ada 80 tanaman. Berarti daya tumbuh benih itu 80%. Bisa juga cuma 60% atau malah kurang dari itu. Untuk memperoleh hasil yang dapat dipercaya, pada saat pengambilan contoh kita jangan pilih benih yang bagus saja, atau yang jelek-jelek saja., harus secara acak (tidak pandang bulu).

Kalau kita sulit melakukan pengujian di lahan yang dicalonkan akan kita tanami dengan tanaman itu, bisa juga melakukan pengujian di pesemaian kecil pekarangan rumah. Asal saja kondisinya kita usahakan sesama mungkin dengan kondisi lahan yang akan kita tanami. Kalau jumlah 100 biji dirasa menyulitkan penghitungan karena terlalu banyak, boleh saja mengambil separuhnya, atau cukup 20 biji. Kalau yang tumbuh masih sekitar 70-80%, itu masih termasuk bagus. Dengan seleksi terlebih dulu sebelum melakukan penanaman, kita harapkan nantinya benih yang tumbuh prosentasenya bisa lebih, tinggi lagi. Tapi kalau yang tumbuh di bawah angka itu, sebaiknya benih tidak usah jadi dibeli. Cari penjual atau penangkar benih yang lain saja yang pro-sentase daya tumbuhnya lebih tinggi. Kalau yang kita uji itu benih berasal dari 4 penangkar atau penjual, kita bisa memilih penjual (atau penangkar) yang paling tinggi prosentase daya tumbuh benihnya. Kalau benih dari penangkar A tumbuh 55%, penangkar B 75%, penjual C 60% dan penjual D 80%, maka yang kita pilih tentunya benih dari penjual D.

Sesudah benih yang diuji secara sederhana itu tumbuh, kita masih harus mengamati bentuk tanaman muda itu. Meskipun yang tumbuh sekitar 80%, namun kalau kondisinya kelihatan jelek, maka itu berarti benih kurang baik. Demikian pula meskipun cuma tumbuh 70%, tapi kalau tanaman muda ternyata kelihatan sempurna, segar dan bentuk serta ukurannya normal, berarti benih ini cukup bagus. Hanya nanti, pada waktu melakukan penanaman yang benar-benar, seleksinya harus agak ketat. Pengujian seperti ini, sudah tentu harus dilakukan dengan betul, seperti misalnya mengolah tanah, memupuknya, menyebar benih dan lain-lain. Semuanya dilakukan sungguh-sungguh seperti bertanam yang sebenarnya. Kalau kita salah melakukannya (atau tidak sungguh-sungguh), benih yang bagaimanapun bagusnya juga tak akan bisa tumbuh dengan baik. Dengan kerja yang sudah baik, kalau benih itu kemudian tidak tumbuh baik, maka itu bukan akibat kita salah tanam, tapi betul-betul karena mutu benih yang bersangkutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar