Selasa, 03 Agustus 2010

Intensifikasi Pertanian Lahan Kering

I. PENDAHULUAN

Tanah sebagai lahan pertanian merupakan salah satu unsur produksi yang turut menentukan keberhasilan suatu usaha tani. Selain untuk usahatani, tanah juga digunakan untuk berbagai keperluan lainnya, seperti untuk perkampungan, perkotaan, perumahan, perkantoran, jalan dan sebagainya. Karena itu tanah mempunyai nilai dan peranan yang dinamis bagi keperluan hidup manusia.

Sumberdaya tanah di Indonesia tersebar di kepulauan Nusantara dan sebagian besar merupakan lahan kering yang memiliki potensi untuk keperluan pertanian. Potensi lahan kering tersebut berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya, tergantung dari berbagai faktor antara lain : topografi/bentuk wilayah, geologi dan keadaan tanah, iklim (suhu, curah hujan, angin dan penyinaran), keadaan sumberdaya air dan keadaan sosial ekonomi masyarakat. Adanya perbedaan potensi itu menyebabkan pula perlunya pemilihan jenis usaha tani dan macam teknologi yang sesuai dengan potensi lahan kering tersebut.
pada waktu hujan deras. Aliran ini akan mengikis dan menghanyutkan lapisan tanah bagian atas yang relatif lebih subur, sehingga tanah di tempat itu makin lama makin tandus. Pada tingkat kerusakan yang cukup parah, akhirnya tanah tidak dapat lagi berfungsi sebagai unsur produksi seperti yang diharapkan.

Usaha-usaha konservasi yang dapat dilakukan antara lain dengan membangun teras (sengkedan/pe-matang) dan saluran pembuangan air, menanam tanaman penguat teras, mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah atau dapat pula menanam pohon sebagai tegakan tetap pada lahan kering yang miring.

Untuk mengurangi resiko kegagalan berusahatani di lahan kering, sangat dianjurkan melakukan pola aneka usahatani secara terpadu. Misalnya pada luas lahan tertentu diusahakan tanaman semusim, tanaman perkebunan, tanaman makanan ternak dan dibarengi memelihara ternak. Pemilihan jenis usahatani ini disesuaikan»dengan iklim setempat, keinginan para petani serta berbagai aspek dalam pemasaran hasilnya.

A. PENGERTIAN

Beberapa pendapat tentang pengertian intensifikasi pertanian dan lahan kering cukup banyak dike-mukakan oleh para akhli pertanian. Oleh karena itu dalam brosur ini hanya akan dikemukakan pengertian intensifikasi pertanian lahan kering secara terbatas dan ditujukan untuk daerah lahan kering dengan penduduk cukup padat.

Intensifikasi pertanian dapat diartikan sebagai usaha peningkatan dan penggiatan pemanfaatan berbagai macam sarana produksi pertanian secara ekonomis pada suatu luasan lahan tertentu yang disertai melakukan usaha konservasi sumberdaya alam. Tujuannya adalah untuk memperoleh produksi yang tinggi dengan tambahan hasil yang selalu menguntungkan.

Lahan kering diartikan sebagai sebidang tanah yang dalam keadaan alamiah memiliki kondisi antara lain :
—    peka terhadap erosi, terutama bila tanahnya miring atau tidak tertutup vegetasi
—    tingkat kesuburan tanahnya rendah
—    air merupakan faktor pembatas dan biasanya tergantung dari curah hujan
—    lapisan olah dan lapisan tanah di bawahnya (top soil dan sub soil) memiliki kelembaban yang amat rendah.

Dari uraian tersebut, yang diartikan intensifikasi pertanian lahan kering di sini adalah usaha intensifikasi pertanian yang dilaksanakan pada sebidang lahan kering dengan tujuan untuk memperoleh produksi yang tinggi dan menguntungkan dengan disertai usaha-usaha konservasi tanah dan air. Pelaksanaan usaha intensifikasi pertanian tersebut akan lebih berhasil bila dilakukan di daerah yang tenaga kerja dan berbagai sarana produksi pertaniannya cukup tersedia dengan pengelolaan aneka usahatani secara terpadu.

B. MAKSUD DAN TUJUAN

Maksud intensifikasi pertanian lahan kering adalah upaya pengelolaan lahan dalam rangka meningkatkan serta mendayagunakan lahan tersebut agar dapat berdayacjuna dan berhasilguna secara optimal, sehingga dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat dan sekaligus dapat melestarikan lingkungan secara berkesinambungan.

Tujuannya adalah :
1. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat tani.
2. Meningkatkan kemampuan petani pemilik dalam usahataninya.
3. Meningkatkan produktifitas tanah, baik dalam bentuk tanaman semusim, tanaman kayu-kayuan maupun hasil lainnya.
4. Meningkatkan kelestarian tanah dan air.

C. SASARAN

Usaha intensifikasi pertanian memerlukan berbagai sarana produksi serta tenaga kerja manusia sebagai pengelola usahatani. Tanpa tersedia sarana produksi dan tenaga kerja manusia, maka usaha intensifikasi pertanian itu sulit dilakukan. Oleh sebab itu yang menjadi sasaran lokasi usaha intensifikasi pertanian di sini adalah lahan kering tadah hujan milik rakyat yang digarap untuk tanaman semusim.

III. Usaha Konservasi

Seperti telah disebutkan pada bab terdahulu, kondisi lahan kering mempunyai permasalahan yang harus diatasi yaitu tingkat erosi yang tinggi, kesuburannya rendah serta jumlah air yang sangat terbatas. Karena itu pemanfaatan lahan kering untuk usahata-ni harus disertai dengan usaha konservasi tanah dan air.

Ada tiga cara pendekatan dalam usaha konservasi yaitu :
1. Memperbaiki dan menjaga keadaan tanah agar tahan terhadap bahaya erosi.
2. Melindungi tanah dari jatuhnya air hujan dengan tanaman atau sisa-sisa tanaman.
3. Memperlambat aliran air di permukaan tanah sehingga tidak merusak lahan.

Pelaksanaan dari usaha konservasi biasanya dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama membuat bangunan-bangunan sipil teKnis dan kedua secara kultur teknis atau vegetatif.

A. BANGUNAN SIPIL TEKNIS

Bangunan sipil teknis yang perlu dibuat adalah teras dan saluran pembuangan air. Fungsi bangunan tersebut yaitu 1) memperlambat aliran permukaan dan 2) menampung dan menyalurkan air aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak.

1. TERAS

Pembuatan teras bermaksud untuk mengubah permukaan tanah miring menjadi bertingat-tingkat untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan menahan serta menampungnya agar lebih banyak air yang meresap ke dalam tanah.

Ada 4 macam teras yang dapat dibuat pada tanah miring, yaitu :
a.    Teras uatar, biasanya dibuat pada tempat-tempat dengan curah hujan yang rendah, kemi ringan tanahnya paling besar 3% dan mudah menyerap air.
b.    Teras kredit, umumnya diterapkan pada tempat-tempat yang tanahnya sulit menyerap air kemiringan tanahnya 3 - 10% dan curah hujannya tinggi. Tujuannya, terutama ialah untuk mempertahankan kesuburan tanah.
c.    Teras guludan, dibuat pada tempat-tempat dengan kemiringan tanah 10 — 50% dan dilengkapi dengan saluran pembuangan air di sepanjang bagian atas guludan. Tujuannya ialah untuk mengurangi kecepatan air yang mengalir bila turun hujaa, sehingga erosi dapat dicegah dan peresapan air ke dalam tanah dapat diperbesar.
d.    Teras bangku, dibuat pada tanah-tanah dengan kemiringan 10 - 30%. Teras bangku memiliki bidang olah yang dibuat miring 1% ke-arah dalam serta dilengkapi dengan saluran air yang letaknya di sebelah dalam bidang olah teras.

2. SALURAN PEMBUANGAN AIR

Saluran pembuangan air merupakan bagian yang harus ada bila teras guludan atau teras bangku dibuat pada tanah miring. Pembuatannya dengan arah memotong garis kontur. Bila keadaan memungkinkan saluran pembuangan air ini ditempatkan pada saluran alam yang ada.

Pada saluran pembuangan air biasanya dibuatkan bangunan terjuhan secara bertingkat, mulai dari bagian atas sampai ke bagian terbawah dengan permukaan yang datar. Deretan bangunan terjunan ini berfungsi untuk mengurangi kecepatan aliran permukaan dan mencegah terbentuknya jurang-jurang yang dalam pada saluran pembuangan. Bangunan terjunan dapat dibuat dari bambu atau batu kali.

B. KULTUR TEKNIS

Usaha konservasi secara kultur teknis atau vegetatif berarti melakukan konservasi dengan menanam berbagai jenis tanaman. Fungsi tanaman tersebut adalah untuk 1) melindungi tanah terhadap daya perusak butir-butir hujan yang jatuh, 2) melindungi tanah terhadap daya perusak aliran air di atas permukaan, dan 3) memperbaiki penyerapan air oleh tanah.

Jenis tanaman untuk konservasi sebaiknya dipilih tanaman yang dapat berfungsi ganda, produksinya dapat dimanfaatkan oleh manusia atau hewan dan tanamannya baik untuk konservasi tanah dan air.

Beberapa cara melakukan konservasi secara kultur teknis adalah :

1. Penanaman tanaman penutup tanah.

Tanaman pentutup tanah berfungsi untuk mencegah erosi, menambah bahan organik tanah dan memperbesar kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air hujan yang jatuh.

Ada tiga jenis tanaman penutup tanah yang penting yaitu :

a. Tanaman penutup tanah rendah, seperti Colopogonium mucnnoides Desv, Centrosema pubescens Benth, Ageratum conizoides L (Babadotan) dan beberapa jenis rumput-rumputan misalnya akar wangi, rumput gajah dan rumput benggala.
b. Tanaman penutup tanah sedang, berupa semak seperti; beberapa tanaman leguminosa (kacang-Kacangan; yaitu Crotalaria anagyroides, C. juncea L, dan C. striata.
c. Tanaman penutup tanah tinggi atau tanaman pelindung,seperti Albizzia falcata Backer dan Leucaena leucocephala (lamtoro gung).

2. Penanaman rumput makanan ternak.

Beberapa rumput makanan ternak baik ditanam pada lahan kering untuk konservasi tanah dan air. Bila lahan kering tersebut datar, rumput dapat ditanam tersendiri atau sebagai sisipan diantara tanaman lainnya.

Untuk tanah miring yang berteras, rumput tersebut bisa ditanam pada bagian tepi teras atau pada tampingan teras.

Contoh rumput makanan ternak yang baik ditanam antara lain rumput gajah, rumput benggala, rumput signal (Brachiaria decumbens Staph) dan rumput setaria (Setaria sphacelata).

3.    Penanaman dalam jalur

Penanaman dalam jalur (strip cropping) adalah suatu sistem bercocok tanam dengan cara beberapa jenis tanaman ditanam dalam jalur-jalur yang berselang-seling pada sebidang tanah dan disusun memotong lereng atau menurut kontur. Biasanya tanaman yang dipergunakan adalah tanaman pangan atau tanaman semusim yang biasa ditanam berbaris diselingi dengan jalur-jalur tanaman yang tumbuh rapat berupa tanaman pupuk hijau atau tanaman penutup tanah.

Dalam sistim ini semua pekerjaan pengolahan tanah dilakukan searah dengan jalur, melaksanakan pergiliran tanaman dan penggunaan sisa-sisa tanaman.

4.    Pergiliran tanaman.

Cara penting lainnya untuk konservasi tanah dan air ialah dengan pergiliran tanaman, yaitu sistem penanaman berbagai tanaman secara bergilir dalam urutan waktu tertentu pada sebidang tanah.

Pada lahan kering yang berlereng atau tanahnya miring, pergiliran yang efektif untuk pencegahan erosi adalah antara tanaman penghasil bahan pangan dengan tanaman penutup tanah atau pupuk hijau.

Selain mencegah erosi, keuntungan lain dari pergiliran tanaman adalah :
— memberantas hama dan penyakit tanaman melalui pemutusan siklus hidupnya.
— memberantas tumbuhan pengganggu/gulma.
— mempertahankan sifat-sifat fisik tanah dengan cara mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah.

5. Penggunaan sisa-sisa tanaman.

Salah satu cara menambah unsur hara tanah yaitu dengan mengembalikan sisa-sisa tanaman ke dalam tanah. Pembenaman sisa tanaman dalam tanah akan mempertinggi kemampuan tanah dalam menyerap air dan memelihara keseimbangan unsur hara tanah

Selain dibenamkan ke dalam tanah, sisa-sisa tanaman dapat pula diletakkan di atas tanah sebagai serasah (mulch) yang dapat mempertahankan kelembaban tanah.

Dengan mulching penguapan air tanah dapat diperkecil, sehingga tanaman yang tumbuh pada tanah tersebut dapat tetap hidup.

6. Penanaman tanaman penguat teras.

Tanaman penguat teras dapat dipilih jenisnya sesuai dengan keinginan para petani. Bentuk tanaman penguat teras ini dapat berupa pohon-pohon atau rumput-rumputan.

Tanaman yang memenuhi syarat sebagai penguat teras adalah sebagai berikut :
—    mempunyai sistem perakaran intensif sehingga mampu mengikat tanah.
—    tahan pangkas, supaya tidak menaungi tanaman utama.
—    bermanfaat dalam menyuburkan tanah maupun sebagai penghasil makanan ternak.

Contoh tanaman penguat teras yang dianjurkan ditanam antara lain lamtoro gung, kaliandra, gamal, akasia, rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria.

IV. Usaha Peningkatan Produksi

Pada prinsipnya usahatani di lahan kering tidak berbeda dengan usahatani di lahan basah. Persoalannya adalah bagaimana caranya mengelola masalah air. Oleh karena itu usaha intensifikasi pertanian lahan kering harus dibarengi dengan usaha konservasi tanah dan air. Dengan demikian, maka produksi pertanian dapat diharapkan meningkat.

Dalam rangka peningkatan produksi pertanian di lahan kering, beberapa usaha yang perlu dilakukan adalah penggunaan varietas unggul,pengolahan tanah, menerapkan pola tanam, pemupukan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman.

A. PENGGUNAAN VARITAS UNGGUL.

Untuk memperoleh hasil yang tinggi, benih atau bibit harus dari varietas yang unggul dan sesuai dengan kondisi lahan kering yang ada. Demikian pula bila anda akan memelihara ternak, pilihlah jenis ternak yang unggul sesuai dengan iklim di lahan kering.

Jenis atau varietas unggul adalah varietas yang memiliki satu atau lebih sifat-sifat unggul yang sesuai dengan kondisi lahan dan iklim tempat varietas itu diusahakan.

Untuk tanaman, sifat-sifat unggul itu antara lain produksinya tinggi, respon terhadap pemupukan, efisien dalam pemakaian air, tahan terhadap hama dan penyakit. Sedangkan untuk ternak, sifat unggul tersebut misalnya saja banyak anak, tahan penyakit, pertumbuhan.cepat dan mudah beradaptasi.

Beberapa jenis tanaman padi dan palawija yang cocok untuk lahan kering antara lain,padi varietas IR 36, Gati dan C-22 Gama 6, Cartuna, Jagung varietas DM R 5, Harapan baru dan Bogor DM R 4, Ar juna, Parikesit, kacang tanah varietas Gajah/Kidang serta kacang uci varietas lokal, kedele varietas orba, galunggung, lokon dan guntur; kacang hijau varietas merak, bakti.

B. PENGOLAHAN TANAH

Pengolahan tanah lahan kering hendaknya dengan membuat teras yang sempurna agar kesuburan tanah dapat terpelihara. Selain itu disarankan agar

1.    Tanah diolah sebaik mungkin.
2.    Pengolahan tanah cukup 2 kali, yaitu sebelum dan pada awal musim hujan.
3.    Jika tanahnya miring, olahlah tanah menurut kontur dan membuat teras.

C. POLA TANAM

Penerapan pola tanam pada lahan kering bermaksud agar sepanjang tahun terdapat tanaman. Dengan demikian erosi dapat diperkecil dan sekaligus lahan berproduksi. Beberapa pola tanam yang telah dikenal dan dapat diterapkan pada usaha intensifikasi pertanian lahan kering, yaitu :

1. Tumpang sari.

Pada pola tanam tumpang sari, dua atau lebih jenis tanaman ditanam dalam barisan yang teratur. Salah satu dari jenis tanaman itu merupakan tanaman utama, yakni tanaman yang hasilnya di harapkan paling banyak.

Menurut waktu tanamnya, tumpang sari ada dua macam :

a.    tumpang sari sama umur (intercropping), yaitu bila waktu penanaman atau panennya hampir bersamaan.

Contoh :
— tumpang sari antara jagung dengan kedelai, kacang tanah atau dengan kacang hijau.
— tumpang sari antara padi gogo dengan jagung.

b.    tumpang sari beda umur (interplanting), yaitu bila waktu penanaman atau panennya tidak bersamaan.

Contoh :
— tanaman semusim yang ditanam sebagai tanaman sela di antara tanaman tahunan.

2. Tanaman sisipan.

Pada pola ini suatu jenis tanaman ditanam di antara jenis tanaman lain yang hampir dipanen.

Contoh:
— kedelai ditanam di antara barisan tanaman jagung yang akan dipanen.

3. Tanaman beruntun.

Pada pola tanam ini suatu jenis tanaman ditanam segera sesudah jenis tanaman lain dipanen.

Contoh :
— kedelai ditanam segera sesudah jagung atau padi gogo dipanen.

4. Pola tanam kombinasi.

Pola tanam ini telah dicoba selama beberapa tahun di lahan kering daerah transmigrasi Way Abung Lampung dengan hasil yang baik. Dengan pola tanam kombinasi, maka selama waktu satu tahun ketiga macam pola tanam yang terdahulu dilaksanakan untuk paling sedikit 5 jenis tanaman yang secara ekonomis menguntungkan. Pelaksanaan dari pola tanam tersebut adalah sebagai berikut :

Tanaman pertama adalah tumpang sari jagung + padi gogo. Satu bulan setelah padi ditanam, ketela pohon/singkong disisipkan di antara barisan jagung. Kemudian setelah padi dipanen, kacang tanah ditanam pada bekas barisan padi.

Selanjutnya, kacang tunggak ditanam setelah kacang tanah dipanen.

Untuk lebih jelasnya, contoh pola tanam lahan kering Way Abung dapat dilihat pada bagan. Sedangkan untuk daerah lahan kering lainnya, pemilihan jenis tanamannya disesuaikan dengan keadaan iklim setempat, terutama curah hujannya.

Free Image Hosting by FreeImageHosting.net
D. PEMUPUKAN

Tujuan pemupukan antara lain untuk :

1.    menyediakan beberapa unsur hara sebagai penyubur tanaman, terutama berupa unsur Nitrogen (N), Fosfat (P) dan Kalium (K).
2.    memperbaiki struktur dan kegemburan tanah.
3.    mengurangi tingkat keasaman tanah, yaitu dengan melakukan pengapuran.

Namun pemupukan pada lahan kering tidak akan menguntungkan sebelum usaha-usaha pencegahan erosi dilaksanakan.

Ada dua jenis pupuk, yaitu pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik sering disebut pupuk alam dan pupuk anorganik disebut juga pupuk buatan.

Contoh pupuk alam ialah pupuk hijau, kotoran ternak dan kompos.
Urea, TSP, ZA dan KCI adalah sebagian contoh pupuk buatan.

Daun tanaman dari berbagai jenis kacang-kacangan atau polong-polongan, baik digunakan sebagai pupuk hijau. Misalnya daun lamtoro, kaliandra dan orok-orok. Begitu pula kotoran dari berbagai macam ternak sangat baik digunakan untuk memupuk tanaman. Bila pupuk kandang dan kompos digunakan, harus dipilih yang sudah masak agar dapat langsung dimanfaatkan tanaman. Jika belum masak, maka akan berpengaruh jelek terhadap pertumbuhan tanaman. Jumlah pupuk alam atau pupuk buatan yang diberikan pada tanaman sebaiknya disesuaikan dengan tingkat kesuburan lahan kering tersebut serta keperluan tanaman. Waktu pemupukan yang tepat juga penting diketahui. Pemberian pupuk alam biasanya sebelum tanam, yaitu ketika mengolah tanah. Sedangkan pupuk buatan diberikan sesuai dengan tingkat pertumbuhan/umur tanaman.

Seandainya anda belum jelas akan jumlah pupuk dan waktu pemberiannya yang tepat, maka dianjurkan untuk meminta informasi lebih lanjut kepada teman anda yang lebih mengetahui

E. PERLINDUNGAN TANAMAN

Perlindungan tanaman bertujuan agar tanaman terhindar dari gangguan berbagai macam hama dan penyakit yang merugikan. Usaha perlindungan dapat berupa pencegahan maupun pemberantasan. Usaha pencegahan antara lain pemberian pestisida pada tanah setelah diolah, pemberian pestisida pada bibit-bibit tanaman serta penyemprotan tanaman secara teratur.

Sedangkan usaha pemberantasan antara lain penyemprotan hama dan penyakit yang menyerang, pencabutan tanaman yang terserang dan atau membakar tanaman yang terserang.

Untuk melindungi tanaman, berbagai racun hama/penyakit dapat digunakan. Tapi pilihlah racun yang dapat bekerja secara efektif dan sesuai untuk melindungi tanaman yang anda usahakan. Juga mengenai dosis serta waktu pemberiannya perlu diketahui dengan tepat. Untuk itu bacalah petunjuk pemakaiannya yang tertera pada label. Bila mengalami kesulitan mintalah penjelasan lebih lanjut kepada teman sekerja anda, atau Dinas Pertanian setempat.

6 komentar:

  1. terima kasih...tulisannya sangat bagus dan bermanfaat

    BalasHapus
  2. MARI…
    “KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA”.

    Petani kita sudah terlanjur memiliki mainset bahwa untuk menghasilkan produk-produk pertanian berarti harus gunakan pupuk dan pestisida kimia.
    NPK yang antara lain terdiri dari Urea, TSP dan KCL serta pestisida kimia pengendali hama sudah merupakan kebutuhan rutin para petani kita, dan sudah dilakukan sejak 1967 (masa awal orde baru) hingga sekarang.
    Produk hasil pertanian mencapai puncaknya pada tahun 1984 pada saat Indonesia mencapai swasembada beras dan kondisi ini stabil sampai dengan tahun 1990-an. Capaian produksi padi saat itu bisa 6 -- 8 ton/hektar.

    Petani kita selanjutnya secara turun temurun beranggapan bahwa yang meningkatkan produksi pertanian mereka adalah Urea, TSP dan KCL, mereka lupa bahwa tanah kita juga butuh unsur hara mikro yang pada umumnya terdapat dalam pupuk kandang atau pupuk hijau yang ada disekitar kita, sementara yang ditambahkan pada setiap awal musim tanam adalah unsur hara makro NPK saja ditambah dengan pengendali hama kimia yang sangat merusak lingkungan dan terutama tanah pertanian mereka semakin rusak, semakin keras dan menjadi tidak subur lagi. Sawah-sawah kita sejak 1990 hingga sekarang telah mengalami penurunan produksi yang sangat luar biasa dan hasil akhir yang tercatat rata-rata nasional hanya tinggal 3, 8 ton/hektar (statistik nasional 2010).
    Tawaran solusi terbaik untuk para petani Indonesia agar mereka bisa tersenyum ketika panen, maka tidak ada jalan lain, perbaiki sistem pertanian mereka, ubah cara bertani mereka, mari kita kembali kealam.

    System of Rice Intensification (SRI) yang telah dicanangkan oleh pemerintah (SBY) beberapa tahun yang lalu adalah cara bertani yang ramah lingkungan, kembali kealam, menghasilkan produk yang terbebas dari unsur-unsur kimia berbahaya, kuantitas dan kualitas, serta harga produk juga jauh lebih baik.

    Tetapi SRI sampai kini masih belum juga mendapat respon positif secara luas dari para petani kita, karena pada umumnya petani kita beranggapan dan beralasan bahwa walaupun hasilnya sangat menjanjikan, tetapi sangat merepotkan petani dalam proses budidayanya. Selain itu petani kita sudah terbiasa dan terlanjur termanjakan oleh system olah lahan yang praktis dan serba instan dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga umumnya sangat berat menerima metoda SRI ini.
    Mungkin tunggu 5 tahun lagi setelah melihat petani tetangganya berhasil menerapkan metode tersebut.

    Tawaran solusi yang lebih praktis yang perlu dipertimbangkan dan sangat mungkin untuk dapat diterima dan diterapkan oleh masyarakat petani kita untuk dicoba, yaitu:

    ""BERTANI DENGAN SISTEM GABUNGAN SRI DIPADUKAN DENGAN PENGGUNAAN EFFEC-TIVE MICROORGANISME 16 PLUS (EM16+), PUPUK ORGANIK AJAIB (SO/AVRON/NASA), AGEN HAYATI PENGENDALI HAMA TANAH GLIO DAN AGEN HAYATI PENGENDALI HAMA TANAMAN BVR, DENGAN POLA TANAM JAJAR GOROWO"

    POLA TANAM JAJAR GOROWO
    Kata “gorowo” diambil dari bahasa Jawa yaitu “lego”, “jero” dan “dowo”. Lego artinya luas/lebar, jero artinya dalam dan dowo artinya panjang. Teknologi jajar gorowo merupakan rekayasa teknik tanam dengan mengatur jarak tanam antar rumpun dan antar barisan sehingga terjadi pemadatan rumpun padi dalam barisan dan melebar jarak antar barisan dan diselang dengan parit/selokan sehingga seolah-olah rumpun padi berada dibarisan pinggir dari pertanaman yang akan memperoleh manfaat sebagai tanaman pinggir. Cara tanam padi pola tanam jajar gorowo merupakan rekayasa teknologi yang ditujukan untuk memperbaiki produktivitas usaha tani padi. Teknologi ini merupakan perubahan dari teknologi jarak tanam tegel menjadi tanam jajar legowo dan disempurnakan menjadi tanam jajar gorowo.

    Media tanam dalam bentuk bedengan tidak digenangi air, tetapi tinggi air pada parit/selokan sama atau sedikit lebih rendah dari permukaan tanah bedengan. Bibit ditanam pada usia muda (6 – 10 hst) dan satu bibit untuk satu titik tanam.

    Terimakasih, dan selamat mencoba,
    omyosa@gmail.com

    BalasHapus
  3. MARI…
    “KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA” (lanjutan)

    1. Persiapan benih dan menanam benih usia semai muda
    Kebutuhan benih untuk tanaman padi model SRI adalah 5-7 kg per hektar lahan.Benih sebelum disemai diuji dalam larutan air garam. Larutan air garam yang cukup untuk menguji benih adalah larutan yang apabila dimasukkan telur, maka telur akan terapung.
    Benih yang baik untuk dijadikan benih adalah benih yang tenggelam dalam larutan tersebut. Kemudian benih telah diuji direndam POC NASA dosis 2 tutup / 10 liter air selama 24 jam kemudian ditiriskan dan diperam 2 hari, kemudian disemaikan pada media tanah dan pupuk organik atau kompos (1:1) didalam wadah segi empat ukuran 20x20 cm selama 6 hari. Setelah umur 6-10 hari benih padi sudah siap ditanam.
    2. Olah tanah dan atur jarak tanam dengan bibit tunggal
    a. Mula-mula tanah dicangkul tau dibajak menggunakan traktor atau tenaga sapi atau kerbau.
    b. Selanjutnya tanah digaru sambil disebari Dolomit 250 – 500 kg per 1 hektar dan pupuk kompos 2 ton/hektar dan ditaburkan serbuk agen hayati pengendali hama tanah GLIO NASA dengan dosis 30 pact @100gram per 1 hektar.
    c. Selanjutnya setelah tanah sawah digaru dikeringkan/ ditiriskan semalaman untuk memudahkan pembuatan bedengan.
    d. Kemudian pada hari berikutnya bedengan dibuat dengan ukuran lebar 60 cm diselang parit selebar 25 cm dan dalam 30 – 40 cm.
    e. Selanjutnya buat larutan 10 liter cairan EM 16+ dengan 980 liter air air yang sudah ditambahkan 10 liter air gula (molas) diaduk perlahan berlawanan dengan arah jarum jam, dan didiamkan selama 4-5jam kemudian sejumlah 1000 liter larutan EM16+ tersebut disiramkan/ digemborkan atau disemprotkan merata dipermukaan tanah bedengan untuk lahan seluas 1 hektar.
    f. Sehari kemudian parit diantara bedengan dialiri air sampai rata dengan permukaan tanah bedengan dan apabila terdapat pinggiran tanah bedengan yang rusak/larut kedalam air parit, lumpur yang ada diparit diangkat untuk memperbaiki bedengan, sekaligus permukan bedengan diratakan.
    g. Kemudian diatas bedengan dibuatkan garis-garis jarak tanam, yaitu 10 cm dari pinggir bedengan kiri dan kanan, sehingga jarak antar barisan selebar 40 cm. Selanjutnya dibuatkan titik-titik tanam pada masing-masing barisan dengan jarak titik tanam pada masing-masing barisan antara 18 – 20 cm.
    h. Selanjutnya bibit padi hasil semaian antara 6-10 hari dapat langsung ditanamkan pada masing-masing titik tanam dengan posisi akar dan batang menjadi berbentuk (L) dan akar dibenamkan tidak lebih dari 1 cm saja dari permukaan tanah.

    Terimakasih, dan selamat mencoba,
    omyosa@gmail.com

    BalasHapus
  4. MARI…
    “KITA BUAT PETANI TERSENYUM KETIKA PANEN TIBA” (lanjutan 1)


    3. Mempertahankan tanah basah tapi tidak tergenang.
    Untuk mempertahankan agar tanah bedengan tetap basah tetapi tidak tergenang, maka upayakan tinggi air diantara bedengan maksimal setinggi bedengan atau sedikit dibawahnya (1-2 cm dibawah permukaan tanah bedengan).
    4. Pemeliharaan tanaman
    a. Membersihkan gulma pada hari ke 5 dan ke 6, diulang pada hari ke 12 dan 13, 19 dan 20, 26 dan 27 dengan cara digaruk dengan garukan kemudian dibenamkan, atau langsung dibenamkan dengan menggunakan logam dalam bentuk garpu. Tanah bekas pembenaman gulma tidak perlu ditutup sehingga akan terbentuk lubang-lubang kecil yang akan terisi dengan air resapan.
    b. Memberikan pupuk Ajaib SO yang dilarutkan dengan air 3 tutup/tangki 10 liter dengan cara disemprotkan. Pada minggu pertama (hari ketujuh) cukup 1 liter pupuk ajaib SO dilarutkan kedalam 350 liter air dan semprotkan merata ke daun dan batang tanaman seluas 1 hektar,
    c. Kemudian pada minggu kedua dan minggu ketiga ditingkatkan menjadi 2 liter pupuk ajaib SO dilarutkan kedalam 700 liter air dan semprotkan merata ke daun dan batang tanaman seluas 1 hektar,
    d. Kemudian pada minggu keempat ditingkatkan menjadi 3 liter pupuk ajaib SO dilarutkan kedalam 1000 liter air dan semprotkan merata ke daun dan batang tanaman seluas 1 hektar.
    e. Selanjutnya pada minggu kelima diberikan larutan pupuk Power Organik NASA dengan dosis 2 kg dilarutkan kedalam 1000 liter air dan digemborkan secara merata ditengah-tengah bedengan seluas 1 hektar diantara 2 barisan rumpun padi (dibekas garukan atau lubang-lubang pembenaman gulma).
    f. Kemudian pada minggu keenam larutan pupuk ajaib SO disemprotkan kembali dengan dosis sama dengan sebelumnya yaitu 3 liter pupuk ajaib SO dilarutkan kedalam 1000 liter air disemprotkan merata ke daun dan batang tanaman seluas 1 hektar.
    5. Mengendalikan hama tanah dan tanaman dengan agen hayati pengendali hama
    a. Pada minggu ketujuh dan minggu kedelapan apabila terlihat tanda-tanda terdapat hama berupa walangsangit dan lain-lain, larutan pupuk ajaib SO dapat dicampurkan dengan larutan BVR NASA dengan dosis 3 liter pupuk ajaib SO +10 pact@100gram dilarutkan kedalam 1000 liter air disemprotkan secara merata ke daun dan batang untuk tanaman seluas 1 hektar.
    b. Kemudian pada minggu kesembilan dan minggu kesepuluh larutan BVR NASA saja dengan dosis 10 pact@100gram kedalam 1000 liter air disemprotkan kembali ke daun dan batang secara merata.
    c. Kendalikan hama secara terkendali tanpa harus membunuh predator pemangsa hama dari awal tanam hingga masa panen.

    Terimakasih, dan selamat mencoba,
    omyosa@gmail.com

    BalasHapus