Kamis, 22 Juli 2010

Selamatkan Hutan, Tanah, dan Air

I. LINGKUNGAN YANG BAIK BAGI MANUSIA

Alam yang indah, hutan yang hijau, dan tanah yang subur ditutupi oleh pepohonan dan tanaman penutup tanah, merupakan keadaan lingkungan yang baik dan menyegarkan bagi kehidupan kita. Pohon-pohonan dengan tajuknya yang rimbun dan akarnya yang kokoh kuat, melindungi tanah dari kerusakan dan kegersangan. Daun-daunnya yang gugur jatuh menutup tanah, kemudian membentuk humus dan tanahpun menjadi gembur dan subur. Jaringan perakarannya yang kuat mencekam tanah dan menahan tanah dari bahaya longsor. Air hujan yang jatuh mengalir perlahan-lahan di antara jaringan perakaran itu kelak keluar lagi sebagai mata air di bagian yang lebih rendah. Seterusnya mengalir melalui sungai, yang kemudian dapat digunakan untuk berbagai keperluan hidup, seperti untuk mengairi sawah dan kebun, untuk minum, mandi dan lain-lain.

Rimbunnya pohon akan menghasilkan udara yang segar, sejuk dan nyaman bagi tubuh. Udara yang kotor di-saringnya dan menjadi udara yang bersih, sehingga menyehatkan pernapasan manusia dan hewan sekitarnya. Burung-burung yang meloncat di antara dahan dan ranting, kicauannya menambah semarak suasana dan kegairahan kerja.
Di samping menyuguhkan lingkungan yang baik bagi kehidupan, pepohonan dan penutup tanah yang lain juga menyajikan keuntungan-keuntungan lain. Dahan dan ranting-ranting yang kering dapat digunakan sebagai kayu bakar. Beberapa tanaman dapat menghasilkan getah, buah-buahan dan bahan ramuan obat.
Dalam lingkungan yang baik dan terpelihara ini para petani akan lebih giat bekerja, karena semua unsur pertanian tersedia, seperti tanah yang subur dan air yang cukup. Bila sarana usaha tani mudah didapat, kegiatan usaha akan meningkat dan hasilnyapun naik berlipat.

Sayang, suasana seperti itu sekarang ini mulai sukar dan jarang ditemui. Tidak sedikit daerah yang dulunya berhutan lebat, tanahnya subur dan airnya jernih berlimpah, sekarang berubah menjadi tanah kosong terbuka dengan alang-alang tumbuh di sana sini.

Tanah menjadi miskin. Di musim kemarau gersang, udaranya kotor dan kering, sedang di musim penghujan sering terjadi bencana banjir. Mengapa dapat terjadi demikian?

II. MENGAPA HUTAN, TANAH DAN TATA AIR MENJADI RUSAK

Pada tahun 70-an, gunung Merapi yaitu salah satu gunung berapi di Jawa Tengah meletus. Dari dalam perutnya dimuntahkan lahar panas b,erapi, pasir dan batu-batu besar. Sungai-sungai yang sebelum itu mengalirkan airnya dengan lancar, dalam sekejap berubah menjadi sungai kering yang penuh pasir dan batu-batu besar.

Lain lagi halnya dengan yang terjadi di Jawa Barat pada tahun 1975. Pada suatu hari, tiba-tiba saja bumi bergetar, tanah terbelah, lereng-lereng bukit merekah bahkan longsor ke bawah. Rusaklah hutan dan tanah di sekitar daerah gempa itu dalam sekejap dan tata airpun menjadi tak teratur lagi.

Kedua contoh di atas jelas menggambarkan bahwa bencana alam dapat menyebabkan kerusakan, baik terhadap hutan, pepohonan, tanah maupun tata air. Menghadapi hal ini manusia tidak berdaya untuk menghindarkannya.

Tetapi selain bencana alam, kita manusia, dapat juga menjadi penyebab dari kerusakan-kerusakan seperti itu, walaupun kejadiannya tidak secepat seperti gempa bumi itu. Contoh yang sederhana, misalnya dengan menebangi pohon-pohon yang masih muda, untuk diambil kayunya. Dengan tindakan ini berarti kita tidak memberi kesempatan pohon itu untuk tumbuh melindungi tanah. Contoh lain misalnya dengan menanami lereng-lereng bukit dengan palawija atau tanaman semusim lainnya, padahal di daerah lereng seperti ini seharusnya tumbuh pohon-pohon besar, agar tanah tidak mudah longsor.

Tidak sedikit kerugian-kerugian yang dapat ditimbulkan karena perlakuan manusia seperti itu. Marilah kita perhatikan lebih lanjut.

I. Perladangan berpindah-pindah

Masih banyak di antara kita yang melakukan perladangan berpindah-pindah, yaitu membuka hutan, membakar untuk kemudian dijadikan ladang. Ladang ini ditanami tanaman-tanaman semusim, seperti jagung dan ketela pohon untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Ladang umumnya kurang dipelihara. Hasilnya sebagian besar tergantung pada alam. Oleh karena itu tanah perladangan cepat menurun kesuburannya, hasil panen-nyapun semakin menurun. Karena itu setelah beberapa kali panen, ladang akan ditinggalkan, untuk kemudian membuat ladang baru di tempat lain. Tanah yang ditinggalkan pada umumnya menjadi tanah terlantar, ditumbuhi alang-alang.
Memang ada yang ditanami dengan tanaman keras, misalnya dengan kopi, tetapi hanya sedikit sekali.

Padang alang-alang dan tanah tidak produktif lainnya yang terdapat di Indonesia mencakup puluhan juta hektar, tersebar hampir di semua kepulauan. Dan perladangan berpindah-pindah masih terus dilakukan, sehingga padang alang-alangpun masih terus bertambah luas.

2. Cara bertani yang kurang memperhatikan usaha pengawetan tanah

Coba kita perhatikan tanah di lereng-lereng bukit. Banyak petani yang memanfaatkannya untuk ditanami dengan tanaman-tanaman seperti jagung, tembakau dan sayur-sayuran. Usahatani di tempat-tempat seperti ini, sebetulnya salah. Di mana letak kesalahannya?

Pada umumnya tanah pertanian di tempat seperti ini terbuka, sehingga mudah terkikis oleh air jika turun hujan. Kita juga tahu bahw lapisan tanah bagian atas merupakan lapisan yang subur, yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Makin lebat hujan yang turun, akan makin cepat pula tanah subur ini terkikis. Letak kesalahan berusahatani di daerah lereng ini ialah jika pada tanah ini tidak dilakukan usaha pengawetan, misalnya tidak dibuat teras-teras atau sengkedan-sengkedan. Tanah akan mudah terkikis. Bahkan pada tempat-tempat yang kemiringannya sangat curam, walaupun dibuat teras atau sengkedan, pengikisan tanah akan tetap terjadi dengan keras. Sehingga pada tanah seperti ini, penanaman tanaman semusim harus dihindarkan.
Tanamilah dengan tanaman keras, misalnya dengan tanaman kayu-kayuan, buah-buahan atau jenis pohon lainnya. Kesalahan lainnya, ialah apabila tanah penanaman sejajar dengan arah kemiringan tanah. Hal ini juga akan menimbulkan erosi/pengikisan tanah dengan keras, apabila hujan turun.

3. Penggembalaan liar

Masih banyak di antara kita yang memiliki sapi, kerbau atau kambing yang tidak dipelihara secara baik. Untuk memberi makannya, dilepas liar begitu saja. Ternak yang digembalakan seperti ini dapat merusak hutan dan kebun karena memakan tanaman-tanaman muda. Tanah-pun akan menjadi padat karena injakan-injakan kaki ternak. Tanah yang memadat seperti ini, sukar untuk ditanami.

4. Kebakaran hutan

Pembersihan lapangan dengan menggunakan api, baik untuk perladangan maupun tujuan lain, dapat menimbulkan kebakaran hutan, karena api dapat menjalar ke dalam hutan.

Api unggun dari perkemahan-perkemahan, membuang puntung rokok dan korek api yang masih menyala di tempat yang berserasah kering dan mudah terbakar, juga dapat menyebabkan terjadinya kebakaran hutan. Salah satu jenis serasah yang mudah terbakar ialah serasah pinus. Pembakaran alang-alang, untuk mendapatkan alang-alang muda untuk makanan ternak, atau dengan tujuan untuk menghalau binatang buruan, juga akan dapat menjalar ke dalam hutan dan menyababkan terjadinya kebakaran hutan.

Apabila terjadi kebakaran hutan, bukan hanya satu atau dua orang saja yang dirugikan, tetapi kita semua, bahkan generasi yang akan datangpun turut menderita. Sebab tidak ada lagi pelindung tanah dan pengikat air. Banjir, erosi dan kekeringan akan timbul.

Jadi jelas, selain bencana alam, manusia yang tidak bijaksana dapat menjadi penyebab utama dari kerusakan hutan, tanah dan tata air.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar