Sabtu, 17 Juli 2010

Sejarah Surat Pos

I. Perposan pada masa Kerajaan-kerajaan.

Perposan dulu bentuknya yang sederhana sudah terdapat pada jarnan kerajaan Mulawarman, Sriwijaya, Tarumanegara, Mataram, Purnawarman dan Majapahit.
Perposan pada waktu itu dinamakan komunikasi tertulis atau surat-menyurat. Huruf-huruf yang dipergunakan ialah huruf sansekerta dan India Selatan, yang disebut huruf Pallawa, yang akhirnya menjadi huruf-huruf Jawa, Sunda dan Batak. Dengan masuknya agama Hindu dan Budha, maka tulis menulis dan surat menyurat berkembang di biara dan di istana raja-raja.Pada waktu itu menulis dibuat di atas batu, kayu maupun kertas. Kertas pada waktu itu berupa bahan yang terbuat dan kulit kayu, bambu yang diiris tipis-tipis. Sedangkan bahan untuk dapat ditulis waktu itu yang lazim dipergunakan ialah daun tal atau lontar. Bahan lain yang dapat ditulis ialah daun nipah daun yang lebih lebar, dan daun bunga pudak atau pandan. Daun bunga pudak pada urnumnya dipergunakan untuk menulis surat cinta yang harus segera dibaca. Karena bunga pudak ini mengandung bau harum, maka aroma itulah. yang menambah asyiknya para remaja bila menerima surat cinta tersebut. Dan daun bunga pudak/ pandan yang ditulis curahan hatinya para pecinta inilah tumbuh suatu ungkapan yang berbunyi: ‘Kalau anda menjadi kertasnya aku akan menjadi tulisannya”. Ungkapan ini dapat ditafsirkan bahwa surat menyurat dapat mempercepat hubungan sehingga dapat mempersatukan pengirim dan penerima.

II. Perkembangan Dinaspos

1. Perposan di jaman V.O.C. (tahun 1602—1795):

Kedatangan Belanda di Indonesia menyebabkan adanya surat-menyurat dengan negerinya.
Pada tahun 1596 Cornelis de Houtman pada saat kedatangannya telah membawa surat-surat untuk raja-raja di Banten dan Jakarta.
Meskipun telah ada surat-menyurat dan Indonesia ke Negeri Belanda, namun pengiriman surat harus ditujukan kepada pejabat-pejabat resmi dan isinya tidak boleh mengandung pemberitaan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Kompeni yang berdagang di Indonesia.
Pada waktu itu perhubungan pos belum dapat dikatakan teratur, masih tergantung kepada Kapal perang Kompeni yang berlayar dengan pulau-pulau. Demikian pula halnya dengan perhubungan yang menggunakan perahu atau pacalang. Betapa sulitnya perhubungan kota itu dapatlah dimaklumi berhubung terdapatnya bajak laut. Waktu tempuh surat dan Negeri Belanda ke Indonesia waktu itu adalah 9 bulan sedangkan surat dan Jakarta ke Amboina memakan waktu 4 bulan.
Kantor pos pertama didirikan di Jakarta oleh Gubernur Jenderal G.W. Baron van Inhoff, pada tanggal 26 Agustus 1746 dengan tujuan untuk lebih menjamin keamanan surat-surat penduduk, terutama bagi mereka yang berdagang dan kantor-kantor di luar jawa dan bagi mereka yang datang dan dan pergi ke Negeri Belanda. Setelah Kantor pos Jakarta didirikan, maka 4 tahun kemudian didirikan kantor pos Semarang untuk mengadakan perhubungan pos yang teratur antara kedua tempat itu dan untuk mempercepat pengirimannya.

2. Perposan di jaman Pemerintahan Republik Belanda (tahun 1795—1808).

Jatuhnya Kompeni pada tahun 1795 disusul dengan pencabutan hak usahanya untuk berusaha di Indonesia oleh Pemerintah Republik Belanda pada tahun 1798. Pada tanggal 12 Januari 1799 semua kantor pos dinyatakan milik Republik Belanda.
Pembubaran Kompeni ini baru terlaksana pada tahun 1800.

3 Perposan di jaman Pemerintah Perancis (tahun 1808—1811).

Dalam jaman penjajahan Perancis yang patut dicatat ialah pembuatan jalan raya pos dan Anyer sampai Panarukan, Pembuatan jalan raya ini mungkin diilhami oleh jalan pos raya pada jaman Romawi yang terkenal dengan nama Cursus Publicus yang sekaligus merupakan Lembaga Perposan pada waktu itu.
Atas perintah Gubernur Jenderal Daendels “Jalan Raya Pos” pada tahun 1809 yang dapet diselesaikan dalam waktu 1 tahun, jalan ini terbentang sepanjang pantai utara Jawa dan Barat sampai ke Timur yang dapat dilalui oleh Cikarpos dan cikar-cikar besar yang beroda tinggi,

4. Perposan selama Pemerintah Inggeris di bawah Raffles (tahun 1811—18i4).

Penunjukkan Thomas Stamford Raffles pada tanggal 11 September 1811 mempunyai ciri khas yang membawa perubahan-perubahan baru dalam perposan di Indonesia. Perubahan yang mengesankan sekali ialah bahwa dinas kereta pos dihapuskan dengan sebuah pengumuman yang berbunyi:
“Abolition of the travelling Post Estabolition”.
Mereka yang mempergunakan jalan raya harus mempergunakan kendaraannya sendiri, kuda pos dengan segala peralatannya beserta kusirnya masih tetap dipertahankan.
Mereka yang mau mempergunakan harus membayar sebelum berangkat. Di siƱi nampak pengaruh perposan Inggris yahg menentukan bahwa ongkos kirim harus dibayar di muka.

5. Perposan selama Pemenintah Hindia—Belanda (tahun 1814—1942).

Setelah negeri Belanda bebas dan penjajahan Perancis, Indonesia mengalami pemerintah sementara di bawah Inggeris.
Berdasarkan traktat London tanggal 13 Agustus 1814 dikirimkanlah sebuah komisi Jenderal untuk menerirna kembali pemerintahan di Indonesia. Ketentuan-ketentuan tentang pos dalam Negeri belum banyak diadakan. Dengan keputusan Sekretanis Negara, Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 12 September 1818 ditetapkan ketentuan-ketentuan baru mengenai korespondensi dengan negara-negara di seberang lautan. Ditetapkan bahwa tarif porto surat untuk luar negeri melalui laut
dinyatakan dalam uang Indonesia.
Tarip pos untuk perhubungan dalam negeri baru diatur pada tahun 1821 yang merupakan tarip pengiriman surat antara karesidenan-karesidenan, Tarip pos ini diumumkan dengan Lembaran Negara no. 53 Tahun 1821. Tarip pos ini jelas didasarkan atas jarak yang harus ditempuh dalam pengangkutan surat dan kantor pos pengirim kepada kantor pos penerima.

6. Perposan pada masa pendudukan Jepang.

Sesudah pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada baja tentara Jepang pada tanggal 8 Maret 1942, pemerintah sipil dilakukan di bawah pimpinan Angkatan perang Jepang yang membagi Indonesia menjadi tiga daerah pemerintah militer ialah:
1. Sumatera di bawah Komandan Angkatan Darat Jepang ke-25 yang berkedudukan di Bukittinggi.
2. Jawa di bawah Komandan Angkatan Darat Jepang ke-16 yang berkedudukan di Jakarta
3. Kepulauan lain-lainnya di bawah Armada ketiga Angkatan Laut Jepang yang berkedudukan di Makasar (Ujungpandang).
Kekuasaan tertinggi di ketiga daerah ini dipegang oleh Komandan Angkatan Darat.
Jawatan PTT selama jaman Jepang terpecah-pecah mengikuti struktur organisasi Pemerintah militer Jepang, sehingga pada masa itu terdapat Jawatan PTT Sumatera, Jawatan PTT Jawa dan Jawatan PTT Sulawesi.
Kantor Pusat PTT untuk Jawa dan Madura tetap berkedudukan di Bandung, untuk Sumatera di Singapura dan untuk Sulawesi di Makasar.
Perposan pada masa pendudukan Jepang berjalan seperti biasa mengikuti pola sebelumnya. Yang menonjol ialah adanya peningkatan dalam dinas bank tabungan pos ini dapat dimaklumi karena Pemerintah Militer Jepang memerlukan pengerahan uang.

7. Perposan Setelah Kemerdekaan R.I.

Peristiwa pengambil alihan Jawatan PTT dan tangan Jepang tidak hanya terjadi di Kantor Pusat PTT di Bandung, tetapi di kota-kota lain terjadi pula mengikuti jejak AMPTT di Bandung. Setelah mengalami perjuangan yang gigih untuk mengusir Jepang, maka dengan keberanian AMPTT pada tanggal 27 September 1945 Kantor Pusat PTT telah dikuasai oleh pejuang AMPTT. Maka pada saat-saat yang kritis PTT membentuk pimpinannya dengan Mas Soeharto scbagai Kepala Jawatan PTT dan R. Dijar sebagai wakilnya. Sejak perebutan kekuasaan atas jawatan PTT sampai saat ini telah terjadi perubahan dan perkembangan yang sangat pesat dalam tubuh Perum Pos dan Giro. Perluasan pelayanannya mencapai desa-desa dan daerah tranamigrasi serta daerah terpencil lainnya, Sejalan dengan itu maka pelayanannya ditingkatkan. Penerapan sistim Kode Pos yang telah diperkenalkan kepada masyarakat dimaksudkan untuk kelancaran kiriman pos. Dalam rangka mendayagunakan tenaga manusia, secara bertahap telah memanfaatkan hasil rekayasa, mutakhir a.l : mesin pengecapan surat, timbangan surat elektronik, dan lain-lain. Pengoperasian sarana lalu lintas berita elektronik yang dikenal dengan Birofax Internasional melalui pos secara resmi dibuka untuk umum tanggal 1 November 1985.

4 komentar: