Minggu, 18 Juli 2010

Sejarah Ringkas Perangko

Prangko berasal dan bahasa latin “Franco” yang berarti tanda pembayaran untuk melunasi biaya. pengiriman surat. Prangko pada hakekatnya adalah secarik kertas yang diterbitkan oleh pemerintah yang pada bagian belakangnya memuat perekat sedangkan pada bagian depannya memuat suatu harga tertentu yang dimaksudkan untuk direkatkan pada kiriman pos. Dengan menempelkan prangko pada sepucuk surat berarti bahwa pengiriman surat tersebut telah dilunasi oleh sipengirim surat dan sebagal irnbalannya maka Dinas Pos berkewajiban menyampaikan surat tersebut kepada si alamatnya di tempat tujuan. Prangko untuk pertama kalinya diterbitkan di Inggris pada tahun 1840. Pemakaian prangko adalah merupakan gagasan seorang barigsa Inggris bernama Sir Rowland Hill yang pada waktu itu melihat kepincangan-kepincangan Dinas Pos di negaranya. Sebelum tahun 1840 beberapa negara memang telah menyelenggarakan Dinat Pos yang teratur, tetapi pelunasan biaya pengiriman suratnya masih dibukukan dengan sejumlah uang tunai. Pembayaran secara tunai mi ada yang harus dibayar terlebih dahulu oleh si pengirim ‘surat tetapi ada pula yang harus dibayar si penerima surat. Karena pembayaran terlebih dahulu oleh si pengirim sering kurang menjamin sampainya surat tersebut kepada si alamat, orang lebih suka untuk membayar biayanya kemudian. Surat-surat yang biasanya dibayar kemudian ternyata banyak yang disalah gunakan oleh si pengirim yakni dengan cara menyelipkan atau menyembunyikan isi berita pada alamat suratnya. Sipenerima surat yang hanya dengan membaca alamat telah mengetahui isi suratnya, kemudian menolak menerima surat tersebut sehingga dengan demikian biaya pengiriman surat tersebut tidak dapat dipungut dan sipenerima surat. Karena terlampau banyaknya pengirim surat yang melakukan hal itu, maka Dinas Pos Inggris banyak mengalami kerugian. Untuk menghindarken hal itu maka biaya pengiriman surat diharuskan supaya dibayar oleh sipengirim surat. Usaha-usaha telah dicoba untuk memudahkan mengirimkan surat tanpa si pengirim harus datang sendiri ke kantor pos. Dengan mulai digunakannya carik-carik yang sekarang kita kenal dengan nama “Prangko” yang merupakan perwujudan dan gagasan Sir Rowland Hill, maka cara pelunasan biaya pengiriman surat menjadi lebih murah, praktis dan sederhana. Suatu peristiwa yang merupakan revolusi dalam bidang adrninistrasi yang membuka jaman baru dalam bidang pentarifan pos. Dengan demikian prangko telah memberikan sumbangan yang tidak kecil artinya bagi urnat manusia di seluruh dunia.

PENGGUNAAN PRANGKO PERTAMA DI INDONESIA

Berdasarkan buku “Sejarah Pos dan Telekomunikasi di Indonesia” jilid I yang diterbitkan oleh Ditjen Postel Jakarta, diketahui bahwa jauh sebelum digunakannya kertas seperti sekarang mi, bangsa Indonesia pada jaman kerajaan Mulawarman, Sriwijaya, Tarumanegara, Mataram Purnawarman dan Majapahit telah mengenal surat-menyurat walaupun masih terbatas hanya antara raja-raja. Pada waktu itu penyampaian surat masih diiakukan oleh pengantar khusus kerajaan. Surat-menyurat ditulis di atas berbagai bahan, antara lain kulit kayu yang dibuat rata, potongan bambu berbentuk tipis, daun dan pohon bunga pudak dan lontar, tetapi yang paling lazim digunakan ialah daun lontar. Dan pada abad ke VII diketahui pula bahwa orang-orang Cina yang berada di Pulau Jawa menggunakan daun lontar untuk menulis surat ke negeri leluhurnya. Kedatangan orang Belanda ke Indonesia merupakan awal dimulainya penggunaan kertas untuk surat-menyurat. Dan mulai pulalah Indonesia masuk dalam cengkeraman para penjajah, dimulai dan berkuasanya V.O.C. dan tahun 1602—1795, Pemerintah Republik Belanda dan tahun 1795—-1808, Pemerintah Daendels (Perancis) dan tahun 1808—1811, Pemerintah Raffles (Inggeris) dan tahun 1811—1814, Pemerintah Hindia Belanda dan tahun 1814—1942 dan akhirnya, Pemerintah Jepang dan tahun 1942—1945. Walaupun kertas telah dipergunakan untuk surat menyurat tetapi biaya pengiriman suratnya masih dibayar dengan uang tunai sampai digunakannya prangko Hindia Belanda pertama pada tahun 1864. Sebagai pernyataan biaya yang harus dibayar dengan uang tunai tersebut, maka pada sampul suratnya dibubuhi teraan cap yang berbeda-beda bentuknya. Indonesia yang pada waktu itu masih dalam penjajahan Belanda mulai menggunakan prangko pada tahun 1864. Prangko Hindia—Belanda pertama ini berwarna merah anggur dan memuat gambar Raja Willem III dan Belanda dalam bingkai berbentuk persegi. Pada bagian atas prangko terdapat tulisan “10 Cent”. Sedangkan pada bagian bawahnya memuat tulisan “Postzegel”. Sedangkan pada bagian sebelah kirinya memuat tulisan “Nederl” dan pada bagian sebelah kanannya memuat tulisan “Indie”. Prangko Hindia Belanda pertama mi tidak berperforasi (tanpa gigi) dan dicetak di Negeri Belanda (Utrecht) sebanyak 2.000.000 buah prangko, sedangkan gambarnya dirancang oleh J.W. Kaiser dan Amsterdam.

PENCETAKAN PRANGKO INDONESIA

Berbagai mesin cetak modern dipergunakan oleh berbagai negara untuk mencetak prangko. Pencetakan prangko oleh bangsa Indonesia sendiri dimulai pada tahun 1945 yang hasilnya dapat kita saksikan pada prangko-prangko sen Perjuangan yang diterbitkan di Yogyakarta dan tempat-tempat lainnya. Walaupun lukisan-lukisan pada prangko sangat sederhana dan pada umumnya menggunakan hanya satu warna dan bahkan kertas merang, tetapi peristiwa-peristiwa yang diabadikan di atas prangko-prangko tersebut merupakan rekaman sejarah perjuangan bana Indonesia yang akan dapat disaksikan oleh generasi-generasi yang akan datang. Tetapi bagaimana dengan pencetakan prangko-prangko setelah beberapa tahun Indonesia merdeka? Dewasa ini pencetakan prangko dikerjakan oleh Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (PERUM PERURI) Jakarta. Sesuai dengan perkembangan teknologi dewasa ini. Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia. (Perum Peruri) menggunakan pula mesin-mesin cetak modern lima warna untuk mencetak prangko-prangko Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar