Selasa, 27 Juli 2010

Pengeringan Kopra Dengan Udara Panas

I. Pendahuluan

Mutu kopra yang dihasilkan dipengaruhi oleh mutu buah dan proses pembuatannya. Proses ini berlangsung mulai dari pengupasan buah sampai pengeringan daging selesai.

Meskipun buah yang dikoprakan memenuhi persyaratan yang diminta, tetapi tidak jarang kopra yang dihasilkan bermutu rendah sekali akibat dari cara pembuatannya yang kurang baik ataupun terjadi kesalahan di dalam proses pengeringannya.

Kadar air kopra dan warna merupakan faktor yang ikut menentukan kwalitas di antara beberapa faktor lainnya seperti kadar asam lemak bebas, kekerasan, bau dan lainnya.

Kadar air tertinggi yang diperkenankan dari kopra yang bermutu baik adalah 6 %. Kadar air diatas 6 % akan mendorong pertumbuhan jamur yang merusakkan kopra.

Kadar asam lemak bebasnya tidak lebih dari 5%. Warna yang diingini adalah putih, bebas dari kotoran antara lain tanah yang menempel pada waktu buah dibelah dan asap selama pengeringan di rumah pengasapan. Tanah yang menempel pada daging dapat dihindari bilamana tempat pembelahan buah dialas dengan plastik atau lainnya. Asap yang menempel dapat dicegah bilamana pengeringannya tidak dilakukan sebagaimana lazim dilakukan di rumah pengasapan (kiln).

Ada 3 cara pengeringan adalah : penjemuran, penggarangan/pengasapan dan pengeringan dengan udara panas.

Cara pertama menghasilkan kopra yang bermutu tinggi bilamana cuaca baik. Penggarangan/pengasapan menghasilkan kopra yang berwarna coklat sampai kehitaman. Mutu kopra yang dihasilkan dengan udara panas sama dengan kopra yang dijemur dan pembuatannya tidak tergantung kepada keadaan cuaca.

Sudah banyak macam alat/mesin yang menggunakan sistim ini, tetapi karena harga maupun biaya eksploitasinya masih diluar kemampuan para petani umumnya, sehingga pemakaian dikalangan mereka masih terbatas sekali.

Alat yang dibuat ini dicoba mengkonstruksinya dari bahan yang murah dan mudah diperoleh serta pemakaiannya mudah dan murah pula.

II. Konstruksi Alat

Bagan konstruksinya tertera pada gambar 1,2,3 dan 4. Alat ini mempunyai 4 bagian utama ialah dapur dan ruang pemanasan, ruang pengeringan, saluran pemasukkan udara dingin dan saluran udara lembab atau uap air.

a. Dapur dan ruang pemanasan.

Terletak di dalam lubang yang digali dengan ukuran panjang 6 meter lebar 1,85 meter dan tinggi, 1,10 meter.

Tempat dimana alat pengeringan ini didirikan hendaknya ditempat yang lebih tinggi dari sekitarnya untuk menghindari air hujan mengalir ke dalam lubang.

Keempat dinding lubang diperkuat dengan tembok atau bahan lainnya seperti seng drum agar tanah tidak longsor. Lantainya cukup dari tanah saja.

Dapur dan ruang pemanasan dibuat dari 4 buah drum a' 200 liter yang disambung dengan las membentuk suatu terowongan. Salah satu ujung digunakan sebagai dapur dan ujung lainnya disambung dengan cerobong untuk mengeluarkan asap. Dapur mempunyai pintu seng yang dilubangi sebanyak 6-8 buah masing masing bergaris tengah 5 centimeter.

Panjang dapur dan ruang pemanasan 3,5 meter dan tinggi cerobong 3,5 meter.

Drum diletakkan membujur ditengah dasar lubang agak dimiringkan ke atas hingga dapur lebih rendah 20 centimeter dari ujung lainnya.

Bagian depan lubang dimana dapur berada dipisahkan dengan bagian lainnya dimana drum/ ruang pamanas terletak dengan dinding. Dinding pemisah dapat diangkat dan dipasang kembali atau mempunyai pintu untuk orang yang memperbaiki drum dan membersihkan ruangan dalam dari benda-benda yang dapat terbakar yang jatuh ke dalam lubang tersebut, antara lain potongan kopra.

Lubang bagian depan dimana dapur berada berukuran panjang 2,5 meter untuk tempat penyimpanan bahan bakar seperti sabut, tempurung dan untuk orang yang melakukan pengapian.

b. Ruang pengeringan

Bagian ini merupakan suatu kamar yang tertutup rapat dibangun langsung di atas ruang pemanasan. Dindingnya dibuat dari bahan yang mengisolasi panas misalnya kayu.

Alas ruang pengeringan yang berbatasan dengan lubang ruang pemanasan berupa terali besi yang mata terali berukuran 10 X 10 centimeter. Terali ini harus cukup kuat sanggup menahan beban belahan buah kelapa segar yang pertama kali dikeringkan dengan orang yang menyusunya.

Ruang pengeringan berukuran 350 x 180 centimeter dan tinggi 180 centimeter yang dibagi atas 4 bagian berjajar, satu dengan lainnya tidak dipisahkan dengan dinding. Tiap bagian mempunyai 6 rak yang berjarak 15 centimeter. Rak teratas 20 centimeter dibawah atap ruangan an rak terbawah 90 centimeter terali. Tiap rak mempunyai 2 laci yang berukuran 80 x 80 centimeter. Laci-laci ini dapat dengan mudah ditarik ke luar dan disorong ke dalam melalui pintu di tiap bagian ruangan yang terdapat dikedua sisi ruangan pengeringan. Pintu ini juga terbuat dari bahan yang bersifat pengisolasi panas. Alas laci dibuat dari kawat harmonika.

Di sekitar drum yang panas, udara bergerak naik karena suhunya menjadi lebih tinggi oleh pancaran panas drum pemanas. Aliran ke atas menjadi lebih lancar bilamana ada udara yang mendesaknya dari bawah yakni udara dingin yang berasal dari luar. Oleh pancaran panas drum, suhunya naik dan udara bergerak ke atas pula. Demikian seterusnya proses ini berjalan.

Saluran bermuara di kedua sisi sebelah bawah dari drum. Ujung lainnya terdapat di luar ruangan pengeringan (berfungsi sebagai ventilase). Untuk tiap bagian ruangan terdapat sepasang saluran yang makin jauh dari dapur, garis tengahnya berukuran lebih sempit. Keempat pasang saluran bergaris tengah masing masing 15, 12 1/2, 10 dan 7 1/2 centimeter. Saluran dibuat dari pipa, tanah atau seng.

c. Saluran udara lembab/uap air

Udara lembab atau uap air sebagai hasil penguapan air daging kelapa perlu dieluarkan. Bila ada ventilase atau ventilasinya tidak cukup lebar maka dapat terjadi pengembunan air di dalam ruang pengeringan. Lebar ventilasi dapat diatur sesuai dengan keperluan.

Tiap bagian mempunyai 3 ventilasi berukuran 10 x 90 centimeter yang terdapat berjajar di atap ruangan pengeringan (ridge-ventilation).

III. Cara Menggunakan Alat

a.    Memanaskan ruang pengeringan

Sementara biji-biji kelapa (buah yang sabutnya di kupas) dibelah dan dibuang airnya, pengapian sudah dimulai, bahan bakarnya adalah yang mudah diperoleh di kebun seperti sabut, tempurung, pelepah kelapa, kayu dan sebagainya.    .

Api dinyalakan 1/2 - 1 jam sebelum kelapa dimasukkan ke dalam ruang pengeringan. Pemanasan awal ini dilakukan agar pada saat belahan kelapa dimasukkan, suhu di dalam ruang pengeringan sudah cukup panas lk. 70 derajat Celcius. Ventilasi dibuka, suhu turun dan dipertahankan pada 50 - 55 derajat Celcius. Pada pemanasan awal ventilasi dalam keadaan tertutup.

Pengeringan sebaiknya dilakukan terus menerus dengan suhu tetap pada 50 - 55 derajat Celcius. Usahakan suhu tidak melewat 55 derajat Celcius, agar kopra yang dihasilkan tidak hangus.

Penambahan bahan bakar dilakukan tiap 45 - 60 menit dengan campuran sabut 1 karung (lk. 10 -12 kg) dan tempurung 10 belahan (lk. 1 kg) atau ranting kayu bakar lk.1 kg. Pemanasan awal memerlukan takaran bahan bakar yang lebih banyak kira kira 2 kali atau 2 - 3 karung sabut dan 20 - 25 belahan tempurung.

Sabut dan tempurung disusun merata di dalam drum dapur jangan menyumbat terowongan agar api dapat menyala baik dan berlangsung cukup lama. Penambahan dilakukan sebelum bahan bakar terbakar habis.

b.    Menyusun belahan kelapa dan cara pengeringanya.

Belahan-belahan kelapa yang mirip mangkok dimasukkan ke dalam ruang pengeringan disusun di atas terali sampai tiga lapis mangkok.

Mangkok diletakkan berdiri agak sedikit telungkup berderet ke belakang dan bidang cekungnya (dagingnya) dihadapkan ke dapur. Antara barisan diberi jarak cukup (lk. 5 cm), agar mangkok yang diletakkan di atasnya mendapat aliran udara panas yang baik (gambar 5).


Setelah 24 jam mangkok dikeluarkan dari ruangan untuk dicukil dagingnya. Kopra ini masih mengandung air lk. 13 % (lihat grafik), masih perlu dikeringkan lagi sampai kadar airnya turun menjadi 6 % atau kurang .

Setelah dicukil kopra seperti mangkok dibelah menjadi empat bagian, lalu dimasukkan lagi ke dalam laci.

Rak mampu memuat kopra 2 kali jumlah belahan buah kelapa yang dikeringkan. Maka pada waktu mengeringkan kopra yang dilaci, ruangan bawah yang kosong dapat diisi lagi dengan belahan segar. Seterusnya tiap priode 24 jam dilakukan pemindahan kopra dari rak satu ke rak di atasnya dan memasukkan kelapa segar baru lagi.
Karena suhu ditiap bagian ruangan tidak sama (bagian dekat dapur lebih panas dari yang lebih jauh). Maka agar kopra mendapat jumlah pemanasan yang kira kira sama, supaya pemindahan kopra dilakukan di samping dari ruangan bawah/rak ke rak di atasnya juga dari bagian satu ke bagian lainnya seperti bagian terdepan ke bagian yang paling belakang dan antara kedua bagian yang di tengah



 Daftar 1: Jadwal Kegiatan Pengopraan

Hari
Hari
hari
Kegiatan
pertama
kedua
ketiga :
1. Menyediakan



bahan bakar
X


2. Mengupas sabut



3. Membelah biji
X


kelapa menjadi



2 mangkok kelapa *)

X

4. Mengadakan pe



ngapian untuk



memanaskan ru

X

ang pemanas



5. Menyusun mang



kok kelapa di atas terali

X

6. Mengupas sabut

X

7. Mencukil kopra



dari tempurung



dan memasukkan

X

lagi kedalam ru



angan pemanasan



8. Kegiatan-kegiatan



yang sama nomor



1-7




*). Mangkok kelapa adalah belahan kelapa yang terdiri dari tempurung dan daging

Dengan teknik pengolahan seperti dia tas, maka kadar air kopra rata-rata 6 % atau kurang., dihasilkan dalam tempo 64 jam pengeringan atau lebih (daftar l . Kadar asam lemak bebas nya rendah (l%) memenuhi persyaratan Balai penelitian kimia.

c. Pembersihan dapur dan pemeriksaan alat

Abu sisa pembakaran perlu dikeluarkan agar dapur bersih sehingga pengapian berjalan lancar. Dapur dibersihkan tiap 72 jam.

Pemeriksaan terutama dilakukan terhadap drum dan benda-benda yang dapat terbakar seperti potongan kopra yang jatuh ke dalam lubang.

Kerusakan pada drum supaya cepat diperbaiki atau diganti dengan yang baru.

IV. Kegiatan Harian

Buah kelapa lebih dahulu dikupas sabutnya sebelum dibelah. Ini dipandang lebih baik dari pada buah yang langsung dibelah, sebab cara yang akhir ini memerlukan ruangan yang lebih luas dan jumlah panas yang lebih tinggi karena sabut yang basah ikut dikeringkan.

Pengupasan dilakukan sehari sebelum belahan dikeringkan. Jumlah buah yang dikupas disesuaikan dengan kapasitias ruangan lk. 1000 butir atau tiap bagian ruangan lk. 250 butir. Pada hari yang sama kegiatan lainnya menyediakan bahan bakar membersihkan dan memeriksa alat. Pengapian , pembelahan kelapa dan memasukan ke dalam ruangan pengeringan pada keesokan harinya (lihat Jadwal Kegiatan Pengopraan )

V. Kapasitas Alat

Tergantung dari pada ukuran buah, alat ini untuk satu kali pengeringan menghasilkan 250 - 300 kilogram kopra. Dengan perhitungan 25 hari kerja dalam sebulan, diperkirakan dalam setahun dapat mengeringkan 690 - 830 kwintal atau lk.76 ton kopra.

Maka bila mana angka produksi kopra pada masa sekarang 0,8 ton/tahun/Ha, setiap alat ini mempu melayani pertambahan lk.95 hektar.

Sumber : Lembaga Penelitian Tanaman Industri Bogor


Daftar 2. KADAR AIR KOPRA DARI 15 CONTOH TIAP 8 JAM PENGERINGAN (Dalam persen)

Lama pengeringan (jam)

Nomor contoh
0
8
16
24
32
40
48
56
64
1
55.65
47.12
28.27
17.24
6.53
6.32
6.09
5.68
5.40
2
53.77
38.66
21.33
14.08
11.30
7.64
6.95
5.91
6.00
3
55.74
46.13
28.14
16.88
8.05
7.27
6.46
6.29
6.00
4
53.60
34.73
21.19
13.54
12.02
6.98
6.46
6.52
5.74
5
55.04
46.40
27.38
16.98
7.27
6.87
6.43
5.71
5.54
6
56.62
47.11
28.28
16.69
6.29
5.77
5.51
5.17
4.91
7
55.08
40.97
22.53
13.52
6.63
6.38
5.51
5.34
4.88
8
53.23
43.44
25.63
13.84
6.00
6.49
6.09
4.96
4.85
9
56.09
39.18
20.37
11.81
8.45
6.84
6.32
5.86
5.43
10
50.30
42.21
25.75
15.71
5.31
5.01
5.43
4.71
4.16
11
53.57
37.31
20.59
13.06
6.72
6.00
5.57
5.25
5.35
12
54.20
39.03
23.42
12.55
7.18
6.17
5.45
5.02
5.30
13
53.28
37.62
20.31
11.98
7.01
6.03
5.34
5.05
5.43
14
51.80
34.68
18.03
9.48
7.35
6.63
6.03
5.91
5.34
15
52.07
36.73
19.10
11.74
6.63
5.77
4.94
5.95
4.89
Rata-rata
54.02
40.75
23.35
13.25
7.51
6.41
5.95
5.55
5.21
Catatan: setiap contoh diambil 10 mangkok daging kelapa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar