Sabtu, 24 Juli 2010

Pengelolaan Tanah Gambut Ombrogen Oleh Petani Di Kalimantan Barat

L PENDAHULUAN

Tanah gambut ombrogen tropika dan tanah glei humus di Kalimantan Barat diperkirakan seluas 2 juta hektar. Tanah ini terutama ditemukan di dataran rendah pada sabuk hutan pantai Kalimantan Barat atau tepian Sungai Kapuas. Tanah gambut ini bersifat masam dan tingkat kesuburannya sangat rendah.

Sebagian besar areal tanah organik di Pontianak tertutup oleh hutan gambut sebagian diantaranya berbentuk cekungan dengan ketebalan gambut lebih dari 3 sampai 10 meter. Lapisan-lapisan gambut yang paling dalam secara terus-menerus diredusir oleh lempung pirit ( pyritic clay ) yang berasal dari laut. Tanah gambut ini jika didrainase dan direklamasi cepat sekali menjadi anjelok ( subsidence = turun ).

Di kota Pontianak, tanaman sayuran telah ditanam di tanah gambut yang hasilnya cukup menguntungkan bagi para petani sayuran.

Pembakaran tanah gambut merupakan suatu sistim tradisional yang dilakukan oleh petani. Setelah tanah tersebut dibakar selanjutnya ditambahkan pupuk anorganik, ikan yang dibusukkan, abu karet dan limbah ternak babi. Dampak positip dari sistim kultur tehnik tradisional tersebut menunjkkan pertumbuhan vegetatif dari tanaman sayuran cukup baik.

Menurut petani yang mengelola tanah gambut, tanpa menggunakan limbah ternak babi, abu gambut yang dibakar serta pemberian pupuk berimbang nitrogen, posfor dan kalium tidak mendatangkan keuntungan dalam memproduksi sayuran.

II. SISTIM PENGELOLAAN TANAH GAMBUT

Pengelolaan lahan gambut banyak dijumpai masalah yang menyangkut sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Para petani sebelum menanam tanaman sayuran mereka membuka hutan yang berdekatan dengan rumah tempat tinggal, kemudian didrainase dan membakar sisa tumbuhan secara langsung permukaan gambut ikut terbakar. Setelah itu dibersihkan dan ditanami dengan tanaman sayuran, buah-buahan, dan lain-lain; pada tahun pertama pertumbuhan cukup baik, lambat laun pada tahun berikutnya cenderung menurun. Umumnya para petani sudah mengetahui permasalahan ini, sehingga sis-tim intensifikasi pertanian mereka laksanakan dengan penambahan pupuk anorganik sehingga tingkat produktivitas tanah gambut selalu dipertahankan bertahun-tahun bahkan puluhan tahun.

Umumnya petani selalu- percaya bahwa faktor yang sangat penting yang harus diperhatikan terus menerus adalah ketersediaan unsur makanan di dalam tanah, karena unsur hara ini mempunyai kaitan yang sangat erat dengan drainase, pembakaran dan pengolahan tanah.

Para petani membuat bedengan atau guludan kecil dan saluran drainase. Setelah itu mereka membakar gambut. Pembakaran gambut merupakan cara yang praktis dan menguntungkan.

Pengaruh drainase terhadap unsur hara terutama terhadap unsur Nitrogen (N) dan Kalium (K). Pengembalian K akan diredusir jika permukaan air tanah tinggi, maka pemupukan K diperlukan. Kekurangan N akibat aerasi akan membentuk N03 , dan meredusir N terhadap pengembalian oleh banyak tanaman. Pembakaran gambut bertendensi menaikkan jumlah ketersediaan unsur P (Phospat) dan K. Kemasaman tanah juga menurun dan meningkatkan dekomposisi (pembusuk an) gambut serta meningkatkan ketersediaan N dan tem baga bagi tanaman. 3adi, pembakaran gambut merupakan sistim tradisional yang selalu dilaksanakan petani , dan kemudian mereka menambahkan pupuk N, ikan yang dibusukkan, abu bakaran pohon karet,abu bakaran bahan gambut dan limbah/comberan kotoran babi.

Cara pembakaran gambut dilakukan di tempat lain secara terkendali. Abu hasil pembakaran gambut dan abu bakaran pohon karet disebarkan kepermukaan tanah gambut dan lubang tanam yang telah dibuat be-dengan secara tajak layang ( minimum tillage ) dengan takaran 1-2 kg/m2. Kemudian dipupuk dengan pupuk berimbang NPK sesuai dengan rekomendasi yang dianjur kan dalam intensifikasi khusus ( INSUS ) dan ditambah lagi dengan air limbah kotoran ternak babi yang diambil dari bak penampung di bawah kandang ternak babi. Selanjutnya baru ditanam sayuran atau buah-buahan seperti pepaya. Pemupukan dengan limbah kotoran babi dilakukan 3-6 liter/m2/l-2 minggu tergantung kondisi iklim dan pertumbuhan.

Cara membuat pupuk organik yang berasal dari air limbah yaitu mereka mencampur kepala ikan/udang yang dibusukkan dengan air limbah ternak babi. Pembusukan kepala ikan/udang tersebut direndam air selama beberapa hari sampai tingkat busuk, dengan takaran sebagai berikut : 5-15 kg ikan/udang busuk + 10-40 liter air; kemudian hasil rendaman ditambah 50-400 gr urea yang dilarutkan, kemudian disiramkan secara merata pada bedengan yang berukuran 1 x 20 meter.

Cara membuat bedengan di tanah gambut sebelumnya dibersihkan dari semak, rumput, tunggul dan kotoran lainnya. Setelah bersih kemudian dicangkul dengan tajak layang, kemudian dibuat saluran keliling kebun dengan lebar 0.5 meter guna untuk membuang air. Bedengan berukuran 0.5 - 1.5 meter dan panjang bedengan 10-30 meter tergantung ukuran tanah yang mereka punyai. Jarak antar bedengan dibuat selokan dengan lebar kurang lebih 0.5 meter. Pengolahan tanah dan pembuatan bedengan dilakukan selama menunggu bibit dipersemaian siap dipindahkan ke pertanaman atau kurang lebih 1-2 bulan. Umumnya petani telah melakukan kultur teknik secara intensip dan konvensional dalam memelihara tanaman, pemberantasan hama, pemupukan dengan urea/TSP/KCL sesuai dengan anjuran pemerintah.

Menurut hasil analisa survey BIP, ternyata petani cukup berhasil dalam pengelolaan lahan gambut secara tradisional, konvensional yang dikombinasikan dengan intensifikasi Sapta Usaha pertanian terutama untuk tanaman sayuran dan buah-buahan papaya. Selanjutnya dari hasil survey tersebut disimpulkan bahwa faktor keuletan, kerja keras, modal, serta pengetahuan sangat menunjang keberhasilan usaha tani di lahan gambut. Pengembangan lahan gambut akan berhasil jika diimbangi juga dengan peternakan babi, sapi, unggas dan lain sebagainya dimana limbah ternak ini dapat dimanfaatkan sebagai comberan untuk pemupukan pada tanaman sayuran yang mereka usahakan.

persen, dan dapat menghasilkan struktur tanah dan kandungan lengas cukup baik untuk sebagai media semai di pot, kantong plastik bagi tanaman hutan, hortikultura dan perkebunan. Berdasarkan hasil penelitian bahwa campuran tanah mediterran dengan tanah gambut tofogen dengan perbandingan volume 50 persen berbanding 50 persen menunjukkan aerasi 19.60 persen, air tersedia 20 persen, kapasitas pertukaran kation 46.9 me/100 g ternyata mampu memberikan porositas, air tersedia dan kapasitas pertukaran kation cukup baik bagi kemampuan tumbuh tanaman yang akan disemaikan.

Pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan usaha tani terpadu ternak, ikan, kebun dan pangan dapat dikembangkan, karena pada tahun mendatang keperluan bahan makanan yang bersumber protein hewani dalam meningkatkan kecerdasan dan ketrampilan masyarakat dibanding pendidikan dan olahraga. Ternak babi, sapi potong, unggas perlu dikembangkan di lahan pasang surut dan gambut untuk meningkatkan income dan devisa negara dengan jalan mengekspor ternak ke negara tetangga yang terdekan dari Kalbar yaitu Malaysia Timur, Brunei, dan Singapura.

Sistim tradisional, konvensional sapta usaha pertanian yang dilaksanakan oleh petani perlu dikembangkan kepada petani lain, karena sistim tersebut merupakan alternatif yang relatif murah dan menjaga kelestarian lingkungan hidup serta meningkatkan tarap hidup petani.

III. PROGRAM PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT

1. Pemanfaatan Lahan Gambut

Luas lahan gambut yang dikelola petani berkisar antara 0,6 ha sampai dengan 2 ha. Pemanfaatannya untuk usahatani ternak, hortikultura dan palawija.

Ternak yang diusahakan ialah ternak babi, sedangkan komoditi hortikultura yang diusahakan ialah : pepaya, sawi, bawang kucai, bayam, kangkung darat, lobak, mentimun, cabai, gambas, bawang daun, terong, kacang panjang dan seledri. Komoditi palawija yang diusahakan ialah : jagung dan kedelai.

Usaha tani yang dikembangkan petani adalah usaha tani terpadu. Petani sekaligus beternak babi serta menanam beberapa macam hortikultura dan palawija, seperti pada Gambar dibawah ini :

Gambar. 1. Pola Pemanfaatan Lahan
Ternak Babi (1)
Tanaman Sawi (2)
Tanaman Bayam (3)
Tanaman Kucai
W
Tanaman Mentimun (5)
Tanaman Cabai (6)
Tanaman Seledri (7)
Tanaman Papaya (8)
Tanaman Buncis (9)
dll (10)


Lahan dikelola secara intensif dan berorientasi kepada pasar. Pertanaman dilakukan secara monokultur didalam bedeng-bedeng dengan luasan tertentu, sedangkan untuk keseluruhan lahan ditanami dengan beberapa macam tanaman. Lahan dimanfaatkan sepanjang tahun dengan menerapkan pola pergiliran tanaman. Sebagai contoh : lahan bekas panen tanaman sawi akan ditanami berikutnya dengan tanaman lainnya seperti tanaman bayam,mentimun,dll.

Jumlah ternak babi yang diusahakan berkisar antara 20 ekor sampai dengan 200 ekor, sesuai dengan kemampuan modalnya.

Usaha tani ternak disamping untuk menghasilkan ternak-ternak untuk dijual, yang tidak kalah pentingnya ialah pemanfaatan limbah ternak tersebut menjadi pupuk bagi tanaman yang diusahakannya.

2. Pola Tanam

Seperti dijelaskan diatas bahwa pertanaman dilakukan secara monokultur dengan bulan-bulan tanam sebagai berikut :

Tabel 1. Bulan-bulan tanam setiap jenis tanaman

Jenis Tanaman



Bulan Tanam






J
F
M
A
M
Jn
J1
Ag
s
o
N
D
1. Papaya'
X
X
X
X
X
X
X
X
X



2. Sawi

X
X
X
X
X
X
X




3. Bawang Kucai
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
't. liayain

X
X
X
X
X
X
X
X



5. Kangkung llarat
X








X
X
X
b. Lobak
X








X
X
X
7. Mentimun








X
X
X
X
8. Cabai

X
X
X
X
X
X
X




9. Gambas
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
10. Bawang Daun

X
X
X
X
X
X
X
X



11. Terung








X
X
X
X
12. Kacang Panjang
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
13. Seledri

X
X
X
X
X
X
X




14. Buncis
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
X
15. Kedelai

X
X




X
X



16. Jagung

X
X



X
X
X




Pengadaan Sarana Produksi, Pemasaran Hasil dan Pembinaan Petani.

3.1.    Pengadaan Sarana Produksi.

Dalam pengelolaan usahatani di lahan gambut, beberapa jenis sarana produksi yang mereka butuhkan ialah :

a. bibit ternak, pakan ternak, abu hasil pembakaran, limbah ikan, pupuk anorganik dan insektisida, serta bibit/benih tanaman.

Sarana produksi seperti : benih/bibit tanaman; pupuk anorganik, pakan ternak dan insektisida dapat diperoleh dari pasar/toko. Abu hasil pembakaran dibeli dari pengasapan karet dan sawmill dengan harga Rp. 1.200,-setiap karung pupuk. Selain itu dapat juga di peroleh dari hasil pembakaran gambut. Limbah ikan diperoleh/dibeli dari orang-orang tertentu yang sudah mereka hubungi terlebih dahulu. Sedangkan pupuk kandang diperoleh dari limbah ternak yang mereka usahakan. Khusus mengenai pengadaan ternak dilakukan dengan membeli rata-rata tiga ekor induk setiap petani dan selanjutnya untuk dikembangkan.

3.2.    Pemasaran hasil.

Pemasaran produksi ternak babi sepanjang tahun tidak mengalami masalah. Pemasaran dilakukan dengan ukuran timbangan untuk ternak besar, dan dapat pula penjualan/pemasaran dilakukan per ekor untuk ternak-ternak kecil. Harga ternak kecil lebih tinggi dibanading ternak besar, karena digunakan menjadi bibit maupun untuk ternak lainnya.

Untuk pemasaran produksi hortikultura dan palawija boleh dikatakan cukup baik. Hal ini didukung oleh transportasi yang sudah lancar dan dekatnya pasar. Namun demikian masalah rendahnya harga masih dirasakan pada waktu-waktu tertentu. Keadaan seperti ini terjadi pada waktu musim buah besar, mengakibatkan harga pepaya khususnya menjadi sangat rendah bahkan tidak laku. Juga pada waktu musim ikan (tangkapan ikan besar) harga sayuran-sayuran turun dratis bahkan juga sampai tidak laku. Hal ini mungkin oleh karena konsumen melakukan subtitusi konsumsinya dari sayuran menjadi ikan. Untuk menanggulangi masalah ini salah satu cara dapat dilakukan dengan perbaikan teknologi pasca panen.

3.3. Pembinaan Petani.

Pembinaan petani dilakukan oleh Instansi yang terkait dalam lingkup Deptan. Kegiatan kelompok tani yang menonjol terlihat dalam usaha pengadaan sarana produksi. Petani yang mampu mendahulukan modalnya untuk membeli sarana produksi yang diperlukan anggota kelompok yang kurang mampu, yang nantinya dibayar kembali sesudah menjual hasil produksinya. Dilihat dari tingkat pengetahuan dan ketrampil-an usahatani petani yang sudah tinggi, maka pola pembinaan yang diperlukan saat ini ialah untuk mengikhtiarkan kemudahan-kemudahan guna menunjang usahataninya. Antara lain ialah untuk mengikhtiarkan kemudahan mendapatkan modal.


IV. KULTUR TEHNIK TANAMAN.

1. Sawi (Brassica juncea Czern and Coss)

Persemaian :
-    Benih disebar dibedengan dan ditutup dengan alang alang (Benih 25 gr/m2).
-    Apabila tutup dari daun kelapa maka baru dibuka setelah 3-4 hari sebar benih.
-    Penyiraman dilakukan selama 3 hari apabila tidak ada hujan, disiram pagi dan sore dengan air biasa
-    Ditabur dengan 2 kg abu ditambah 0,5 kg kulit udang/m2.
-    Bibit umur 2-3 minggu dipindahkan ke bedengan lain.

Penanaman :
-    Jarak tanam 7x15 cm.

Pemeliharaan :
-  Umur 2-5 hari setelah dipindahkan, disiram 3 kali sehari dengan air biasa.
- Umur lebih dari 6 hari dapat disiram sekitar 1-4 kali sehari dengan limbah kotoran babi 5-6 Ltr/m2 tiap penyiraman.
-    Pemupukan dengan urea 10 gram per m2.

Pengendalian hama penyakit ;
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila sudah terlihat gejala serangan.

Panen :
-    Umur 30-45 hari setelah dipindahkan dengan cara memotong pangkal akar tanaman.

Produksi :
-    Musim panas sekitar 2,5 - 3 kg/m2.
-    Musim hujan sekitar 0,75 - 1,2 kg/m2.

2. Cabai (Capsicum Sp. L)

Persemaian :
-    Benih disebar dibedengan.
-    Bibit umur 6 minggu dipindahkan.

Penanaman :
-    Jarak tanam 30 x 30 cm, 30 x 40 cm atau 40 x 40 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyiraman selama 4-7 hari sekali sehari.
-    Lebih dari 7 hari disiram 2 kali sehari atau melihat situasi.
-    Pemupukan dengan limbah kotoran babi 3 ltr tambah urea 10 gr/m2 (dilakukan bila tanaman kurang baik).

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila sudah terlihat gejala serangan.

Panen :

-    Umur 3-4 bulan.
-    Dipanen setiap 3-5 hari sekali.

Produksi :
- Sekitar 0,06 - 0,2 Kg/m2.

3. Bawang kucai (Allium ampeloprasum L.).

Penanaman :
-    Bibit berasal dari sobekan 2-3 anakan.
-    Jarak tanam 15 x 45 cm, 20 x 40 cm.
-    Umur bibit 3-4 bulan.

Pemeliharaan :
-    Penyiraman 2 kali sehari dengan 3-6 ltr air per m2 pada musim kemarau.
-    Pemupukan dengan busukan ikan 0,25-0,5 kg per m2, penyiangan umur 2-4 minggu/kali.
-    Pembumbunan 2-4 minggu sekali.

Panen :
-    Mulai umur 1 bln (bila tak dipanen bunga)
-    Mulai umur 3-4 bln (bila panen bunga)
-    Panen bunga 2 hari sekali
-    Panen daun 40 hari sekali

Produksi :
-    Bunga sekitar 0,4 kg/m2.
-    Daun sekitar 2 kg/m2.

4. Bawang Daun (Allium fistulosum L.).

Penanaman :
-    Bibit dari sobekan anakan 1 batang
-    Jarak tanam 10 x 10 cm, 10 x 15 cm
-    Jika ada bintil yang menempel pada bongkol akar supaya dibuang.

Pemeliharaan :
-    Disiram air 3-5 hari sekali.
-    Pemupukan dengan limbah kotoran babi 3 ltr tambah urea 10 gr/m2 setiap seminggu sekali.

Panen :
-    Umur 2-3 bulan dengan cara dicabut tanamannya.

Produksi :
-    Sekitar 1,75 kg/m2.

5. Kacang Panjang (Vigna unguiculata Waip.)

Penanaman :
-    Benih 1-2 biji ditanam ditugal.
-    Jarak tanam 30 x 45 cm, 30 x 30 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyulaman 5 hari setelah tugal.
-    Umur 15-20 hari diberi pancang/tunjar.
-    Pembumbunan dilakukan setelah diberi pancang / tunjar.
-    Pemupukan urea 10 gr tambah limbah kotoran babi 6 ltr tambah ikan busuk 0,7 kg per m2.
-    Penyiangan 2 minggu sekali.

Pengendalian hama penyakit ;
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila sudah terlihat gejala serangan.

Panen :
-    Umur 45-50 hari setiap 2 hari sekali.
-    Produktif sampai 15 kali panen.

Produksi :
-    Panen I (pertama) 0,12 kg/m2.
-    Panen II sekitar 0,25 kg/m2.
-    Panen terakhir sekitar 0,15 kg/m2.

6. Saledri ( Apium graveolens L. ).

Persemaian :

-    Biji disebar, dengan kepadatan 50 gram setiap bedengan ( 1 x 10 m ).
-    Penyiraman dengan larutan urea 3 gr/m2.
-    Pemindahan bibit umur 5 minggu.
-    Naungan pesemaian tinggi 90-100 cm.

Penanaman :
-    Jarak tanam 10 x 15 cm, 10 x 20 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyiraman 2 kali sehari.
-    Pemupukan dengan campuran limbah kotoran babi 3 ltr tambah ikan busuk 0,7 kg tiap m2.

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila sudah terlihat ada gejala serangan.

Panen :
-    Umur 20 - 30 hari, diambil 1 - 3 helai, dipanen se tiap 3 hari sekali.

Produksi :
-    Sekitar 0,2 - 0,26 kg/m2.
-    Umur produktif sekitar 1 tahun.

7. Mentimun ( Cucumis sativa L. )

Persemaian :
-    Ukuran bedengan 1 x 20 m.
-    Benih disebar diatas bedengan dan disiram 2 kali sehari.

Penanaman :
-    Bibit umur 4-5 hari dipindahkan, dengan cara dicabut
-    Jarak tanam 30 x 30 cm, 30 x 35 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyulaman 5-7 hari setelah tanam.
-    Umur 15-20 hari diberi ajir/tunjar.
-    Penyiraman dengan limbah kotoran babi 2 - 4 hari sekali sebanyak 1,5-3 ltr per m2 dan urea 20 gr/ m2 dicampur air 3-4 ltr/m2.
-    Penyiangan 2 minggu sekali.
-    Diberi ikan busuk dan abu sekitar 0,1 kg/pohon.

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, bila terlihat gejala serangan.

Panen :
-    Mulai umur 1 bulan, panen 2 hari sekali.

Produksi :
-    Sekitar 2-3 kg/m2.

8. Kangkung Darat (Ipomoea aquatica Poir).

Penanaman :
-    Bibit dari stek panjang 15-25 cm.
-    Ditanam 1 stek per lubang.
-    Jarak tanam 20 x 20 cm, 20 x 30 cm. atau 30 x 30 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyulaman 5-7 hari tanam;
-    Penyiangan 2 minggu sekali.
-    Pemupukan dengan limbah kotoran babi 3 - 4 liter/m2.
-    Penyiraman setiap hari.

Pengendalian hama penyakit ;
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila sudah terlihat gejala serangan

Panen :
-    Umur 3 - 4 minggu dan selanjutnya setiap seminggu sekali.

Produksi :
-    Sebanyak 0,3 - 1 kg/m2.

9. Jagung ( Zea mays L. ).

Penanaman :

-    Benih ditanam 1 - 2 biji/lubang.
-    Ukuran bedengan 1,2 x 15 m.
-    Jarak tanam 40 x 60 cm.
-    Ditanam pada lahan bekas sayuran sehingga tidak perlu dipupuk.

Pemeliharaan :
-    Penyulaman 7 hari setelah tugal.
-    Merumput 1 kali sebulan.
-    Pembumbunan setelah ada penyiangan.
-    Pemupukan dengan abu 0,6 kg/m2.

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali, dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila terlihat gejala serangan.

Panen :
-    Umur tanaman antara 75 - 80 hari (dipanen muda) Produksi :
-     Sebanyak 1 - 2 tongkol/pohon.

10. Gambas ( Luffa acvtangula Roxb. )

Penanaman :
-    Benih ditanam 1-2 biji/lubang.
-    Jarak tanam 35 x 40 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyulaman 7 hari setelah tugal.
-    Penyiraman air 2x sehari 3 ltr/m2.
-    Pemupukan dengan limbah kotoran babi 6 ltr tambah urea 10 gr tambah ikan busuk 0,7kg setiap m2

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila terlihat gejala serangan.

Panen :
-    Umur tanaman 45 - 50 hari, setiap 2 hari sekali dapat dipanen 7-20 kali.

Produksi :
-    Sekitar 0.6 - 0.8 kg/m2.
-    Produksi terakhir 0.3 kg/m2.

11. Bayam ( Amaranthus hybridus L. ).
Pesemaian :
-    Biji disemai dibedengan dan ditutup dengan alang-alang.
-    Setelah 5-7 hari tutup dibuka.
-    Umur 15-20 hari bibit dipindahkan.
-    Penyiraman dilakukan selama 3 hari apabila tidak ada hujan, disiram pagi dan sore ( 2 kali sehari ).

Penanaman :
-    Jarak tanam 7 x 15 cm.

Pemeliharaan :
-    Umur 4-7 hari disiram 2 kali sehari dengan air biasa.
-    Umur lebih dari 7 hari disiram dengan limbah kotoran babi 5-6 ltr/m2 sebanyak 1 - 4 kali sehari.
-    Pemupukan dengan urea 10 gram/m2.

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 3-4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila terlihat ada gejala serangan.

Panen :
-    Umur sekitar 13-20 hari, dengan cara dicabut tanamannya.

Produksi :
-    Sekitar 0,5 - 2 kg/m2.

12. Terung ( Solanum melongena L. ).

Pesemaian :
-    Biji disemai dibedengan dan ditutup dengan alang-alang.
-    Setelah 5-7 hari tutup dibuka.
-    Bedeng pesemaian dipupuk dengan TSP 250 gr, KC1 125 gr dan busukan ikan 750 gr setiap m2.
-    Bibit umur 1 bulan baru dipindahkan.

Penanaman :
-    Jarak tanam W x 60 cm, 60 x 60 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyiraman 1 kali sehari.
-    Disiram dengan larutan urea 15 gr/m2 setiap 3 hari sekali.
-    Diberikan busukan udang 0.25 kg/m2 seminggu sekali.

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila terlihat ada gejala serangan.

Panen :
-    Umur tanaman 50 - 60 hari.
-    Setiap 2 hari sekali, produktif sampai umur 2 tahun.
Produksi :
-    Sekitar 0,5 kg/m2.

13. Lobak ( Raphnus sativus L. ).

Penanaman :
-    Benih ditanam 2 biji/lubang.
-    Jarak tanam 20 x 20 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyiraman sehari sekali, dengan air biasa. Pupuk urea diberikan 1 x/minggu.
-    Disiram dengan larutan urea 5 gr/ltr.
-    Diberi busukan ikan 350 gr/m2.
-    Penyiangan hingga panen hanya sekali.

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 4 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila terlihat gejala serangan.

Panen :
-    Umur 40 - 45 hari.

Produksi :
-    Sekitar 3 kg/m2.

14. Kedelai ( Glycine max Merr. ).

Penanaman :
-    Benih ditanam 2 biji/lubang.
-    Jarak tanam 15 x 15 cm.

Pemeliharaan :
-    Pemupukan dengan limbah kotoran babi 3-4 ltr/m2 setiap 2 minggu sekali.
-    Diberi abu 1 kg dan busukan ikan 350 gr/m2.
-    Penyiangan sekali sebulan.

Pengendalian hama penyakit :
-    Disemprot setiap 4-7 hari sekali dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila terlihat gejala serangan hama.

Panen :
-    Umur 80 - 85 hari, dengan cara di arit.
Produksi ;
-    Sekitar 2.000 Kg/Ha.

15. Papaya ( Carica papaya L. ).

Pesemaian ;
-    Ukuran bedengan 1 x 3 m, benih ditabur sekitar 0.1 - 0.15 kg dan disiram sehari sekali, serta bedengan ditutup dengan atap (seperti mulch.)
-    Umur 20 hari atap baru dibuka, dan bedengan diberi bakaran abu setebal 1 cm.
-    Abu didapat dari rumput-rumput yang dibakar secara terkendali.
-    Bedengan juga diberi limbah kotoran babi 3 ltr dan ikan busuk 350 gr/m2.
-    Bibit umur 2 bulan baru dapat dipindahkan.

Penanaman :
-    Jarak tanam 3 x 3 m (jenis lokal). Jarak tanam 2 x 2 m (jenis Bangkok).
-    Kedalaman bibit ± 3 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyulaman dilakukan bila ada yang mati.
-    Tanaman/pohon diberi penopang sejak mulai berbuah.
-    Pemupukan dengan campuran limbah kotoran babi 6 ltr + ikan busuk 0,7 kg dan abu setiap 15 hari sekali sebanyak 2,5 kg/m2 yang diletakan antar larikan.

Panen :

-    Umur 8-10 bulan.
-    Produktif selama + 3 tahun.
-    Pemetikan buah 3-4 hari sekali.

Produksi ;
- Sebanyak 2-3 buah/pohon/tahun.

16. Bunds ( Phaseolus vulgaris ).

Penanaman :
-    Benih ditanam 1-2 biji/lubang.
-    Jarak tanam 30 x 45 cm atau 30 x 30 cm.

Pemeliharaan :
-    Penyulaman 5 hari setelah tugal.
-    Umur 15-20 hari diberi tunjar.
-    Pembumbunan dilakukan setelah diberi tunjar.
-    Pemupukan urea 10 gr tambah limbah kotoran babi 6 ltr, tambah ikan busuk 0,7 kg/m2.
-    Penyiangan 2 minggu sekali.

Pengendalian hama penyakit :
-    Setiap 3-4 hari sekali disemprot dengan insektisida 2 cc/ltr, apabila terlihat gejala serangan.

Panen :
-    Umur ± 45 hari.

Produksi :
-     Berkisar 3 kg/m2.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar