Kamis, 15 Juli 2010

Pasca Panen Padi


I. PENDAHULUAN

Penanganan pasca panen yang kurang tepat dapat menyebabkan kerugian-kerugian berupa:

A. Penurunan mutu gabah, yang disebabkan karena tingginya prosentase

1. Kadar air
2. Kadar hampa/kotoran
3. Butir hijau/butir mengapur
4. Butir kuning/butir rusak
5. Butir merah

B. Kehilangan basil dapat mencapai angka 12 - 21 %, yang terjadi pada tahap-tahap:

1. Panen.
2. Perontokan
3. Pembersihan
4. Pengeringan
5. Pengepakan dan pengangkutan
6. Penyimpanan

Misalkan hasil akhir yang kita peroleh adalah 9 ton GKG (gabah kering giling) per hektar. Dengan anggapan kehilangan hasil selama penanganan pasca panen (dan panen sampai penyimpanan) adalah 10%, maka hasil yang seharusnya kita peroleh. adalah 10 ton GKG. Tetapi karena kesalahan dalam penanganan pasca panen maka kita hanya memperoleh hasil sebesar 9 ton GKG.

B. LANGKAH-LANGKAH DALAM PENANGANAN PASCA PANEN

Untuk mengatasi kerugian sebagai akibat dari penanganan pasca panen yang kurang tepat, dapat diikuti beberapa petunjuk dibawah ini :

1. Usahakan 7- 10 hari sebelum panen sawah dikeringkan sehingga mempercepat kematangan yang merata. Batang padi yang rebah kearah pematang sawah ditegakkan agar padi tidak dimakan ayam/itik dan tidak terinjak orang.
2, Panenlah pada saat yang tepat dengan melihat tanda-tanda berikut:
-Cabang malai teratas masak maksimal, bagian tengah telah menguning dan bagian bawah agak hijau.
- Daun bendera mulai menguning dan sebagian telah kering/mati.
Usahakan panen pada udara cerah. Panen terlambat akan menimbulkan tingkat kerontokan yang tinggi.
3. Gunakan sabit yang tajam waktu panen, hasilnya diletakkan di atas alas tikar agar gabah tidak berceceran ditanah dan tidak tercampur dengan tanah/pasir.
4. Setiap tahap pengangkutan gunakan wadah/karung yang tidak bocor.
5. Lakukan perontokan segera setelah panen (pada hari panen).
6. Pada waktu perontokan, gunakan alas untuk menampung gabah (mengurangi kehilangan hasil).
Macam-macam cara perontokan seperti di bawah ini:
- Perontokan dengan cara diirik/diinjak-injak
- Perontokan dapat pula dilakukan dengan menggunakan pedal thresher (Contoh alat ini dapat dilihat pada setiap Diperta Kabupaten). Alat ini dapat dibuat sendiri oleh petani
7. Pembersihan dilakukan segera setelah perontokan, dengan cara diayak atau ditampi, dapat juga dengan menggunakan gumbaan (Winower). Dan jangan lupa diberi alas.
8. Pembersihan dilakukan lagi setelah pengeringan, sehingga gabah benar-benar bersih.
9. Pengeringan dilakukan segera setelah perontokan. Pengeringan bertujuan untuk menurunkan kadar air gabah menjadi rnaksimum 14% agar gabah tidak mudah rusak sewaktu disimpan.
- Dalam keadaan cuaca baik, pengeringan dilakukan ditempat terbuka dengan menggunakan cahaya matahari. Ditempat yang beralas baik,gabah dihamparkan dengan ketebalan 5- 7 cm. Setiap 2 jam di balik-balik. Pengeringan dapat dilakukan beberapa hari, tergantung keadaan cahaya matahari.
- Apabila hujan turun terus menerus maka pengeringan dilakukan di dalam ruangan dengan menggunakan lampu petromak.
10. Pengepakan dengan menggunakan karung goni/plastik yang tidak bocor untuk menghindari tercecernya gabah.
11. Pada waktu pengangkutan diusahakan gabah dalam keadaan tertutup untuk rnenghindari air hujan dan tercecer.
12. Penyimpanan gabah dilaksanakan dalam keadaan kering (kadar air 14%) dan bersih (kadar kotor/hampa 3% ). Karung tempat penyimpan harus bersih dan bebas hama.
Gabah yang disimpan untuk jangka larna sewaktu-waktu perlu dijemur ulang.
Untuk gudang/lumbung berlantai semen harus menggunakan alas penyimpanan dan kayu lebih kurang 15 cm di atas lantai semen.
13. Lumbung/gudang tidak bocor, bersih dan bebas hama.
14, Sekeliling gudang harus bersih dan semak-semak dan tanaman agar gudang tidak lembab. Gudang beratap lebar dan cukup mendapat sinar matahari

Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Kalimantan Selatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar