Senin, 26 Juli 2010

Alat Perontok Pedal Thresher

PENDAHULUAN

Salah satu usaha untuk menanggulangi kekurangan tenaga kerja dalam mengelola usaha tani adalah dengan pemanfaatan alat-alat mekanisasi pertanian. Disamping dapat menghemat tenaga kerja, juga dapat menghemat waktu dan biaya pengerjaannya. Untuk merontok padi di Daerah Kalimantan Barat dianjurkan penggunaan alat perontok yang diantaranya adalah Pedal Thresher.

PEDAL THRESHER

Alat ini sebagian besar terbuat dan kayu atau besi, sebagai gigi untuk perontok digunakan kawat berdiameter 3 mm yang ditancapkan pada sekeliling silinder berdiameter 310 mm. Pada silinder ini dipasang poros yang kedua ujungnya disambung dengan bos dan as roda belakang sepeda,pada salah satu ujung poros dipasang gir sepeda yang dihubungkan dengan rantai ke alat penginjak.
untuk memperkecil kehilangan ha sil akibat melentingnya gabah oleh hempasan putaran silinder di sekeliling silinder diberi dinding.

CARA PENGGUNAAN

- Pedal Threser diletakkan ditempat yang datar diberi alas tikar atau plastik
- Padi hasil panen dengan memotong batangnya disiapkan
- Satu orang berdini di belakang alat, kaki kanan menumpu pada pedal injakan dengan gerakan naik turun, yang akan memutar silinder perontok
- Padi yang akan dirontokkan duetakkan di atas silinder dengan pangkal batang dipegang erat-erat injak pedal dan silinder akan berputar searah
- Akibat putaran silinder, gabah akan rontok dan jatuh ke bawah, yang diambil oleh satu orang tenaga lagi untuk seterusnya dibersihkan.

Dimensi Panjang 1.800 mm
Lebar 650 mm
Tinggi 1.350 mm
Berat sekitar 45 kg

CARA PEMBUATAN
Bahan : Kayu, papan,besi betoneser untuk poros, 1 buah gir sepeda, rantai sepeda, ban dalam sepeda (bekas) kawat diameter 3 mm dan seng.

Cara : Buatlah kerangka sesuai dengan ukuran.Buat lingkaran roda dari papan setebal 30 mm dengan diameter 310 mm sebanyak dua buah. Kedua lingkaran ini dipadukan dengan batangan kayu dimana telah ditancapi dengan kawat berbentuk. Jarak antara kawat 50 mm dan di pasang berselang-seling pada seluruh batangan kayu yang berbentuk silinder tadi. Sebuah bos roda belakang sepeda berikut poros (as) dipotong jadi dua potongan dan dipasang pada kedua ujung silinder kiri dan kanan. As dari bos sepeda diperpanjang dengan besi betoneser menjadi 600 mm ( diameter besi betoneser sama dengan diameter as dari bos sepeda) yang akan berfungsi sebagai poros silinder. Kemudian dilas dengan poros silinder. Panjang silinder 500 mm, kemudian dipasang pada kerangka utama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar