Rabu, 30 Juni 2010

Film Obama Anak Menteng

Film ini berkisah tentang kehidupan Presiden Amerika Serikat Barack Obama sewaktu tinggal di Menteng, Jakarta Pusat, pada tahun 1967-1971.

Obama Anak Menteng, yang diproduseri Raam Punjabi produksi Multivision Plus, diangkat dari novel karya penulis Damien Dematra dan disutradarai John De Rantau/Damien. Novel ini berdasarkan wawancara dengan beberapa teman masa kecil Obama.

Film yang akan dirilis 1 Juli mendatang ini mengisahkan sepenggal cerita hidup Obama, yang dipanggil Barry, pada periode akhir 1968 saat ia pindah sekolah dari SD Asisi di Tebet, Jakarta Selatan, ke SD Negeri Besoeki (sekarang SDN Menteng 01) di Jalan Besuki, Menteng, hingga ia pindah ke Hawaii pada 1971.

Tidak ada unsur agama atau politik dalam film ini. Diharapkan dengan film ini anak-anak Indonesia agar bisa terinspirasi agar berprestasi tinggi seperti Obama,” kata Raam Punjabi.

Film Obama Anak Menteng dimulai dengan adegan salah satu teman masa kecil Obama, Slamet dan Yuniadi, menonton Obama berpidato di TV, sewaktu ia masih berkampanye untuk menjadi presidenan AS. Lakon Slamet dalam film ini adalah benar-benar Slamet asli, bahkan rumah untuk syuting juga benar-benar rumah Slamet di Jalan Tambak, Jakarta Pusat. Film lalu berlanjut masuk ke situasi Jakarta jaman akhir tahun 1960-an. Tampak beberapa mobil jaman itu modar-mandir di depan bangunan seperti Stasiun Cikini dengan Tugu Monas di latar belakangnya.

Obama kecil kemudian pindah ke rumah baru bersama ibu dan ayah tirinya dengan barang bawaan yang penuh sampai ke atap mobil sedan. Barry kecil dilakoni oleh Hasan Faruq Ali (14), warga negara AS yang fasih berbahasa Indonesia dan mengikuti orangtuanya menetap di Indonesia

Ibu Obama, Stanley Ann Dunham, diperankan oleh seorang model foto berdarah Belanda, Cara Lachelle. Ayah tiri Barry yang orang Indonesia asli, Lolo Soetoro, diperankan oleh Eko Noah.

Layaknya anak baru yang berpenampilan beda dengan anak-anak lain, Obama kecil sulit beradaptasi dengan lingkungannya yang masih baru. Untunglah, kemudian ia bertetangga dengan anak yang seumuran, yaitu kakak beradik Slamet dan Yuniadi.

Ibu dan ayahnya memiliki cara yang berbeda dalam mengajari Barry.  Ayahnya mengajari agar bersikap tegas, bahkan kalau perlu menggunakan kekerasan untuk melawan anak-anak yang memusuhinya, tetapi ibunya tidak menyukai kekerasan.

Pada latar film ini, salah satu ruang di rumah Barry ada foto Soekarno dan John F Kennedy juga Mahatma Gandhi. Pada pintu ada stiker bendera merah putih dan bendera the stars and stripes. Jika pintu ditutup, kedua bendera itu bersandingan.

Film ini memang banyak pesan verbal. Termasuk pesan demokrasi yang diucapkan Obama ketika ia berhadapan dengan tokoh Carut, anak ”nakal” yang suka berkelahi itu. ”Gue yang cukup berani untuk menerima perbedaan.” Ucapan itu mungkin berasal dari semboyan e pluribus unum yang terdapat pada lambang negara AS. Dan itu mungkin terlalu matang untuk keluar dari mulut seorang anak SD.

Agar tak terlalu serius, ditampilkan peran banci lewat tokoh Turdi (Teuku Zacky), pengasuh Obama kecil.

Raam mengatakan tokoh Turdi itu benar-benar nyata dan memang banci pada aslinya. Tetapi hingga film selesai dibuat, Turdi yang asli belum bisa ditemukan untuk diwawancara untuk bagian dari riset cerita dan penentuan karakter. Akhirnya, tokoh Turdi ini lalu direka-reka sendiri. Hasilnya adalah seorang pria banci, dengan tingkah yang distereotipkan contohnya jalan ala banci dan bicara genit. Bahkan sang banci bisa menari dan menyanyikan lagu ”Boneka dari India”  dari Ellya Kadham.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar